Welcome to our website

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Duis aute irure dolor in reprehenderit in voluptate velit esse cillum dolore eu fugiat nulla pariatur. Excepteur sint occaecat cupidatat non proident, sunt in culpa qui officia deserunt mollit anim id est laborum. ed ut perspiciatis unde omnis iste.

Minggu, 04 April 2010

Seni Menjual

Seni Menjual
Pengetahuan menjual dapat dikatakan sebagai ilmu, karena mendidik kita
secara teoritis dan melaksanakan dalam praktik. Jadi, antara teori dan praktek
merupakan suatu hal yang tidak bisa kita pisahkan, sebab praktek tanpa teori akan
mengalami berbagai kesulitan, dan bahkan mungkin akan gagal. Demikian pula teori
tanpa praktek tak akan ada manfaatnya. Beberapa ahli mengatakannya sebagai
ilmu dan beberapa yang lain mengatakannya sebagai seni. Pada pokoknya, istilah
ilmu menjual dapat diartikan sebagai berikut.
”Ilmu menjual adalah ilmu dan seni memengaruhi pribadi yang dilakukan oleh
penjual untuk mengajak orang lain agar sedia membeli barang atau jasa yang
ditawarkan”.
J.S Konox memberikan batasan ilmu menjual adalah:
”Ilmu menjual adalah suatu kemampuan atau kecakapan untuk memengaruhi
orang lain untuk memengaruhi orang supaya merasa mau membeli barang-barang
yang kita tawarkan dengan cara saling menguntungkan, meski sebelumnya tak
terpikirkan oleh calon pembeli untuk membeli barang itu tetapi akhirnya tertarik
untuk membelinya”.
Dengan adanya orang-orang yang mempunyai bakat istimewa dalam berjualan,
sehingga ia berhasil, timbul suatu pendapat bahwa ”salesman are born not mode“.
Artinya, seorang penjual yang berhasil karena ia telah dikaruniai bakat istimewa
sejak lahir untuk menjadi penjual yang berhasil.
Peranan penjual dalam membantu calon pembeli dalam memenuhi
kebutuhannya adalah sebagai berikut.
a. Membantu calon pembeli dalam mengenali kebutuhan-kebutuhannya dan
memberikan alternatif-alternatif produk yang dapat dibeli dalam memenuhi
kebutuhannya.
b. Menjelaskan kepada calon pembeli secara terperinci tentang produk yang
ditawarkan seperti, kelebihan, syarat, ketentuan penggunaan produk, syarat
pembayaran, dan sebagainya.
c. Memberikan nasihat-nasihat yang behubungan dengan kebutuhan calon
pembeli seperti efek samping penggunaan produk, hal yang harus dihindari
ketika menggunakan produk, hal-hal yang harus dilakukan ketika muncul
masalah dalam menggunakan produk, dan sebagainya.
d. Memberikan service (membantu memecahkan masalah yang dihadapi
pembeli yang berhubungan dengan produk yang dijual). Memberikan service
merupakan layanan purnajual yang dapat diberikan oleh penjual dalam
rangka meningkatkan kepuasan pembeli. Pelayanan purnajual akan memicu
terjadinya penjualan yang berkelanjutan, pembeli sangat mungkin akan menjadi
pelanggan.
e. Bertindak sebagai perantara komunikasi antara pembeli dan produsen kepada
konsumen. Pada sisi lain penjual juiga membantu menyampaikan tanggapan
yang disampaikan konsumen kepada produsen tentang produk yang mereka
gunakan.

Sifat dan Manfaat Produk

Sifat dan Manfaat Produk
Sifat barang merupakan karakter yang melekat pada barang itu sendiri
secara fi sik dapat dilihat, setiap penjual harus memahami sifat sifat yang ada
pada barang dagangannya, karena sangat diperlukan dalam mengatur sirkulasi
penggantian barang baik barang yang dipajang di toko maupun barang yang
ada dalam persediaan, setiap barang dagangan harus diperlakukan berbeda
karena setiap barang memiliki karakter yang berbeda pula, demikian juga
dalam melakukan klasifi kasi harus adanya penempatan dan penataan yang
sesuai dengan sifatnya masing-masing untuk menghindari terjadinya dampak
dari satu barang terhadap barang lainnya, selain itu memberikan kemudahan
dalam pemeriksaan dan penggantian setiap barang. Sifat barang dipengaruhi
oleh faktor-faktor:
a. Bahan baku yang digunakan pada saat proses produksi,
b. Proses pengolahannya,
c. Daya tahan barang,
d. Cara pemakaian dan pemeliharaan.
Jika dalam proses produksi menggunakan bahan baku bermutu tinggi dan
tepat ukurannya dengan pengolahan yang baik, mungkin akan menghasilkan
barang yang memiliki daya tahan lama, jika dapat menghasilkan barang yang
baik cara pemeliharaannyapun tidak memerlukan waktu dan tenaga yang
relatif banyak atau tidak memerlukan penggantian barang dengan segera, sifat
barang berpengaruh terhadap manfaat barang dalam pola kosumsi dan pola
arus barang di toko. Manfaat barang merupakan faedah yang diberikan suatu
barang kepada pemiliknya atau kepada yang membutuhkanya.
Berdasarkan sifat dan tingkat konsumsinya, di mana barang dapat
dikategorikan/digolongkan menjadi:
a. Barang tahan lama (Durable goods)
Ialah barang berwujud yang biasanya secara normal dapat
bertahan dalam pemakaian berulang kali. Contoh: lemari
es, pakaian dan sebagainya.
Barang tahan lama memerlukan penjualan dan pelayanan
yang lebih pribadi, menguasai margin yang lebih tinggi
dan memerlukan jaminan-jaminan yang lebih besar dari
penjual.
b. Barang tidak tahan lama (non durable goods)
Ialah barang berwujud yang secara normal dapat
dikomsumir sekali atau beberapa kali contoh:
daging, sabun, mengingat barang-barang ini
dikonsumsi dengan cepat dan sering dibeli, maka
barang tersebut tersedia diberbagai tempat,
menguasai margin yang lebih kecil dan memupuk
kesetiaan pada satu merek.
Barang yang bersifat klasikal
Ialah barang yang digemari dan disukai konsumen
sepanjang masa meskipun ada model dan produk
baru, biasanya penggemar model ini merupakan
fanatik terhadap merek barang tertentu karena
dapat memberikan kebanggaan dan kepuasan
tertentu misalnya blue jeans merek Levi’s.
d. Barang yang bersifat kotemporer
Sifat barang yang kotemporer dipengaruhi
trend dan kegemaran konsumen, barang
semacam ini akan memberi manfaat
ekonomis terhadap penjual jika selalu
mengikuti perkembangan trend yang terjadi
di masyarakat, dan manfaat yang diberikan
barang kepada konsumen rasa percaya diri,
karena mengikuti trend lingkungannya.
e. Barang yang bersifat Adjustable
Adalah barang yang menyesuaikan dengan mengikuti
perubahan iklim, dan barang semacam ini akan
dirasakan manfaatnya jika terjadi perubahan musim,
seperti musim penghujan dan kemarau. Misalnya
payung.
f. Barang yang bersifat luxirius
Adalah barang yang sifatnya
mewah dan konsumennya dari
golongan tertentu dan toko biasanya
menyediakan ruang khusus dengan
maksud untuk mempertahankan
karakteristiknya, klasifikasi yang
dilakukan toko biasanya terpisah dan
relatif ketat dalam pengawasanya,
manfaat yang dirasakan oleh
konsumen adalah kemewahan dan
kelas tersendiri karena memberikan gengsi tersendiri, contohnya berlian.
g. Barang yang bersifat Prestisius
Adalah barang yang memberikan kedudukan tersendiri
dalam kehidupan sosial seseorang dan biasanya
ditata dan dikelompokan secara eklusif di dalam toko,
manfaat yang dirasakan konsumen adalah image
tertentu jika menggunakan barang tersebut misalnya
jika menggunakan dasi.
h. barang yang bersifat praktis
Adalah barang yang penggunaannya tidak rumit dan
berkesan santai, manfaat yang dirasakan konsumen
adalah kemudahan dalam pemakaiannya dan rasa
santai dan biasanya digunakan dalam kegiatan
keseharian di luar dinas misalnya memakai T Shirt,
sandal atau jaket.

Sifat-Sifat Dasar yang Harus Dimiliki Seorang Penjual

Sifat-Sifat Dasar yang Harus Dimiliki Seorang Penjual
Penjual yang berhasil dalam penjualan barang dan jasa adalah yang
disenangi pembeli dan pelanggan, sifat-sifat dasar tersebut adalah:
a. Pengetahuan akan diri sendiri
Maksudnya, seorang penjual sebelum mengenal langganan langganannya
harus lebih dahulu mengenal dirinya sendiri.
b. Pengetahuan tentang barang yang akan dijual
Seorang penjual harus mengenal barang dan jasa yang dijualnya dilihat
dari kepentingan calon pembeli.
c. Pengetahuan tentang langganan-langganan atau calon pembeli
Hal yang paling penting sekali ialah kita harus mengetahui siapakah calon
pembeli kita, dari golongan apakah,bagaimanakah sifatnya, tabiatnya, dan
sebagainya.

Siklus Kehidupan Produk dan Strategi Pemasarannya

Siklus Kehidupan Produk dan Strategi Pemasarannya
Siklus kehidupan produk berarti tahap kehidupan produk mulai sejak produk
diciptakan, diperkenalkan sampai produk tersebut mengalami kejenuhan.
Siklus kehidupan ini terdiri atas 5 tingkatan.
a) Tahap introduksi (introduction)
b) Tahap pengembangan (growth)
c) Tahap kematangan (maturity)
d) Tahap menurun (decline)
e) Tahap ditinggalkan (abandonment)
Jangka waktu tiap tahap ini berbeda-beda pada setiap macam barang,
dapat diukur dengan mingguan, ataupun bulanan, tahunan atau puluhan tahun.
Seperti model pakaian, yang dinamakan fad (model yang tidak tahan lama)
dengan cepat akan hilang dari pasar. Tapi model mobil ada yang sanggup
bertahan lama.
Pada permulaan produk diperkenalkan ke pasar, penjulan masih rendah
karena pasar belum mengenal barang tersebut. Di sini perlu dilancarkan
promosi. Lebih rinci pada tahap introduksi ini dapat dilakukan strategi antara
lain:
a) Berusaha selalu memperbaiki penampilan produknya.
b) Menyebarkan barang sebanyak-banyaknya ke seluruh toko di seluruh
daerah. Tindakan ini disebut melakukan sell-in ke sebanyak mungkin toko
jika perlu dilakukan perlombaan di antara para penjual siapa yang terbanyak
mengunjungi toko untuk diisi maka tenaga penjual ini diberi hadiah.
c) Kemudian dilakukan sell-out dengan cara melancarkan promosi di mass
media secara gencar.
Kemudian setelah konsumen kenal maka akan banyak orang membeli,
pasaran makin luas, omzet meningkat cepat sekali (growth). Dalam keadaan
ini, pengusaha harus menyebarluaskan barang-barangnya, dan mengisi semua
toko yang mungkin dapat menjual produknya. Strategi yang digunakan dalam
masa pertumbuhan ini adalah:
a) Usahakan terus mencari segmen baru, menambah jumlah tenaga penjual,
menambah armada pengangkutan.
b) Selalu memperbaiki mutu produk dengan penampilan dan kualitas yang
prima.
c) Pertimbangkan strategi menurunkan harga untuk barang-barang yang
harganya tinggi.
Namun kemudian pasar menjadi jenuh dan timbul masa maturity. Konsumen
mulai merasa bosan, dan menunggu produk baru lagi. Dalam keadaan ini,
strategi yang dapat dilancarkan adalah:
1. Berusaha mencari segmen-segmen kecil yang belum terisi dengan harapan
dapat menarik konsumen baru.
2. Menciptakan produk dengan kemasan besar sehingga jumlah penjualan
tetap meningkat seperti minuman coca cola menciptakan botol isi 1 liter,
minyak goreng menciptakan kemasan 5 kilogram, odol menciptakan ukuran
besar.
3. Memperbaiki penampilan produk dengan sesuatu yang baru dengan
sedikit perbaikan pengusaha harus mencoba merubah product design
(gatra produk), dan merubah desain pembungkus atau memperbaiki mutu
produk menjadi produk yang lebih super, lebih putih, lebih bermutu, agar
konsumen tidak jenuh. Jika strategi ini tidak berhasil, maka akan timbul
masa penurunan (decline), omzet penjualan mulai menurun. Strategi yang
digunakan dalam masa decline ini adalah:
a) Jika gejalanya sudah parah anggaran promosi harus di stop.
b) Pusatkan perhatian pada pasar yang masih ada harapan sedangkan
pasar lainnya dihentikan.
c) Strategi terakhir ialah menghentikan pasaran produk secara
menyeluruh dan menciptakan produk baru untuk memulai masa
introduksi kembali.
Akhirnya jika semua tidak dapat diatasi maka produk tersebut akan
ditinggalkan oleh konsumen dan produknya hilang dari pasaran.

Slow penetration

Slow penetration
Strategi slow penetration dapat dijalankan dengan menetapkan harga jual barang
yang rendah, sedangkan kegiatan promosi rendah, dengan harga jual barang
dan jasa rendah dapat merangsang pasar untuk menyerap barang dengan
cepat, adapun kegiatan promosi yang rendah bertujuan untuk meningkatkan
laba bersih penjualan. Strategi Slow penetration dapat dilaksanakan dengan
menggunakan:
a) Jika luas pasar cukup besar.
b) Jika umumnya pasar itu sensitif terhadap barang dan jasa.
c) Jika umumnya pasar itu sangat mengenal barang dan jasa tersebut.
d) Jika ada ancaman dari para pesaing.

Slow skimming

Slow skimming
Strategi perusahaan ini dijalankan dengan menetapkan harga penjualan yang
tinggi, sedangkan kegiatan promosinya adalah rendah, adapun tujuan dari
strategi slow skimming ini adalah untuk memperoleh laba per unit setinggitingginya,
sebelum pesaing memasuki pasar dengan menawarkan barangbarang
yang sama, mengapa perusahaan di dalam strategi slow skimming
menetapkan kegiatan promosi rendah? dalam hal ini karena perusahaan ingin
mencapai efi siensi kegiatan pemasaran barang dan jasa secara khusus dan
perusahaan pada umumnya.

Stategi pemasaran

Stategi pemasaran
Strategi pemasaran adalah suatu rencana yang sudah ditentukan oleh
perusahaan dalam bidang pemasaran untuk mencapai suatu tujuan, beberapa
perusahaan mungkin mempunyai tujuan yang sama yaitu ingin mencari
keuntungan, akan tetapi strategi pemasaran yang akan dijalankan mungkin
berbeda-beda, didalam menerapkan strategi pemasarannya sesuai dengan
situasi dan kondisi pasar, penentuan pelaksanaan strategi pemasaran sebaiknya
didasarkan atas analisa faktor lingkungan dan internal perusahaan melalui
analisis keunggulan dan kelemahan perusahaan perusahaan serta ancaman
yang dihadapinya, mengenai lingkungan yang dianalisis adalah mengenai
keadaan pasar, konsumen, saingan teknologi, keadaan perekonomian,
peraturan pemerintah dan budaya bangsa, sedangkan faktor internal yang akan
dianalisis adalah masalah keuangan pemasaran pembelanjaan, organisasi
produksi dan sumber daya manusia.
Penentuan strategi pemasaran dapat dilaksanakan oleh manajemen
pemasaran dengan cara
a. mencari para konsumen yang potensial
b. memberikan kepuasan pada para pembeli
c. melaksanakan marketing mix
d. melaksanakan segmentasi pasar
Sebaiknya strategi pemasaran yang akan dijalankan perusahaan
mempertimbangkan faktor faktor yang dapat mempengaruhi, di antaranya
adalah:
1. strategi perusahaan yang diterapkan oleh para pesaing
2. tujuan perusahaan yang bersangkutan
3. posisi persaingan perusahaan
4. perilaku pembelian konsumen dalam pasaran yang ditargetkan
5. sifat dan watak lingkungan ekonomi masyarakat konsumen
6. daur hidup produk (product life cycle).
Setiap perusahaan pada umumnya mempunyai tujuan untuk mempertahankan
kelangsungan hidupnya dan perkembangannya serta ingin memperoleh suatu
keuntungan yan besar, karena iti tujuan dari strategi pemasaran yaitu:
a. meningkatkan keuntungan
b. meningkatkan kepuaasan konsumen
c. mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan
d. meningkatkan omzet penjualan
e. meningkatkan kondisi pemasaran yang jauh lebih baik
f. melaksanakan dan meningkatkan marketing mix dan segmentasi pasar

Syarat-Syarat Penataan Produk (Display)

Syarat-Syarat Penataan Produk (Display)
Menyusun barang dagangan juga merupakan salah satu hal yang tidak
kalah pentingnya, karena ini merupakan kesan pertama dari pengunjung toko
tersebut, oleh karena itu barang-barang dagangan yang dipajang di dalam
ruangan toko maupun di etalase harus ditata sedemikian rupa sehingga
kelihatan rapi, serasi dan menarik bagi setiap orang terutama calon pembeli,
untuk penataan barang-barang ini diperlukan keahlian khusus, kreasi dan
seni yang tinggi jadi tidak setiap orang bisa menata sendiri, agar penataan
terlihat menarik, perlu menyewa orang-orang yang ahli dalam dekorasi dalam
penataan barang/pemajangan, dengan harapan, hal ini bisa dipakai sebagai
dasar atau contoh atau acuan untuk penataan berikutnya, penataan barang
sebaiknya setiap saat diubah agar tidak membosankan dan disesuaikan dengan
keadaannya, hal yang perlu diperhatikan ialah bagaimana bentuk, warna,
ukuran, tempat dan perlengkapan-perlengkapan lainnya itu dipadukan sehingga
penataan barang-barang itu kelihatan rapi dan menarik, yang pada akhirnya
akan bisa menarik pengunjung/calon pembeli/pelanggan tertarik untuk memiliki
barang-barang tersebut. Pemajangan barang dagangan adalah seni (applied
art) dan merupakan unsure promosi yang cepat berkembang serta merupakan
unsur yang dirasakan sangat penting, terutama dilihat dari fungsinya yaitu untuk
memperkenalkan barang dagangan, untuk menarik perhatian pengunjung dan
untuk melihat dan memegang barang dagangan yang kita pajang.
Menata barang dagangan (display) harus dilengkapi dengan informasi
keadaan toko dan barang yang dijualnya, hal ini dimaksudkan agar calon
pembeli lebih mengenal barang dan semakin besar peminat untuk mengadakan
transaksi. Semakin banyak barang yang ditampilkan, semakin mudah pula
calon pembeli menentukan pilihannya, oleh karena itu display harus disajikan
berdasarkan sudut pandang pembeli. Selain menata barang dagangan, yang
perlu diperhatikan juga adalah penataan ruangan toko (lay out) sebagai sarana
strategis yang dapat dimanfaatkan dengan efektif untuk ditata apik sehingga
memberikan ruang gerak yang bebas bagi calon pembeli, dengan ruang gerak
yang bebas, calon pembeli merasakan kenikmatan dalam berbelanja,disisi lain
toko juga harus memberikan kemudahan calon pembeli untuk memilih barang
barang yang dibutuhkannya, maka letakkanlah barang dengan posisi mudah
dilihat dan dijangkau.
o Mengacu pada logika konsumen
Ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan para peritel dalam
melakukan display, yang seharusnya mengacu pada ”logika” konsumen.
Logika konsumen dapat dikatakan sebagai segala sesuatu yang meliputi
cara berpikir, kebiasaan atau kecenderungan psikologis konsumen yang
memengaruhi perilaku mereka saat berbelanja dan berada di dalam toko.
Sebagai contoh, kebanyakan konsumen yang memiliki kebiasaan belanja
secara bulanan biasanya sudah mengetahui secara persis barang-barang
apa saja yang harus mereka beli pada saat berbelanja. Saat berada di dalam toko, konsumen seperti ini akan memulai ”perburuan” mencari
barang-barang yang ia butuhkan dengan berjalan dari lorong ke lorong
secara teratur. Jika pada saat itu mereka membutuhkan barang-barang
untuk keperluan mandi dan cuci (toiletries) hampir dapat dipastikan mereka
akan menyelesaikan perburuan atas barang-barang tersebut terlebih dahulu
baru kemudian beralih untuk mencari barang-barang keperluan lainnya,
sangat jarang terjadi seorang konsumen melakukan perburuannya secara
acak kecuali si konsumen memang tidak mengidentifi kasikan terlebih
dahulu barang-barang apa saja yang ia butuhkan. Biasanya konsumen
seperti ini tidak memiliki kebiasaan belanja bulanan.
Berdasarkan kecenderungan di atas, para peritel dapat menyiasati
displaynya tidak hanya dengan mengatur penempatan barang berdasarkan
grouping (pengelompokan barang) melainkan juga memajangnya secara
runtut (berurut). Untuk contoh kasus, display produk-produk toiletries, peritel
dapat melakukannya dengan mulai memajang produk-produk pasta gigi
pada rak/gondola pertama. Kemudian produk-produk sabun mandi pada
rak kedua di sebelahnya. Dilanjutkan lagi dengan memajang produk-produk
perawatan rambut atau sampo pada rak ketiga dan seterusnya, begitu juga
saat mendisplay produk-produk konsumsi seperti mi instant. Jika mengacu
pada logika konsumen, peritel sebaiknya memajang produk mi instantnya
berdekatan dengan saos, sambal atau kecap, hal ini dikaitkan dengan
kecenderungan konsumen saat mengonsumsi mi instant yang biasanya
dilengkapi dengan saos, sambal dan kecap, saat memajang produk-produk
kategori breakfast (sarapan pagi) seperti roti, selai, keju dan sereal, para
peritel pun dapat memajang produk-produk tersebut dalam satu rak atau
paling tidak berdekatan satu sama lain, kemudian tempatkan pula produkproduk
seperti gula, teh, kopi termasuk SKM (susu kental manis) pada
rak-rak tersebut karena produk-produk ini biasanya juga dikonsumsi oleh
konsumen pada saat sarapan pagi.
Masih banyak contoh-contoh siasat lain yang dapat diterapkan para
peritel sehubungan dengan bagaimana beradaptasi dengan kecenderungankecenderungan
konsumen ini, contoh lagi, apa yang selama ini dikenal
dengan istilah “customer eye level” atau level pandangan mata konsumen.
Level pandangan mata konsumen (pengunjung) saat berada di depan rak
display biasanya tertuju pada salah satu shelve (daun rak) yang berada
pada tingkat tertentu, basanya shelve yang tingginya antara pinggang dan
dada pengunjung, tak heran jika banyak peritel yang jeli menyiasatinya
dengan memajang barang-barang bermargin gemuk (high profi t) pada
shelve tersebut.
Display yang mengacu dengan logika-logika konsumen tidak hanya
melahirkan nilai tambah (kemudahan) yang dirasakan langsung oleh
konsumen atau pengunjung toko tetapi juga membantu para peritel dalam
hal pengaturan display secara keseluruhan, misal, dalam mensiasati display
produk-produk impulse agar lebih efektif.
Syarat display yang baik
Di samping mengacu pada logika konsumen dalam menjalankan
aktivitas display, para peritel juga harus memerhatikan aspek-aspek penting
lainnya yang merupakan syarat dalam mewujudkan display yang baik,
yaitu;
1. Display harus mampu membuat barang-barang yang dipajang menjadi
mudah dilihat, mudah dicari dan mudah dijangkau. Ketiga hal ini
merupakan syarat mutlak yang harus mampu diwujudkan oleh aktivitas
display. Jika tidak, display yang menarik dan seatraktif apapun akan
sia-sia.
2. Display harus memerhatikan aspek keamanan, baik keamanan bagi
pengelola toko dari potensi-potensi kehilangan, maupun keamanan bagi
pengunjung (konsumen) yang berada di dalam toko,berkaitan dengan
aspek keamanan ini, para peritel biasanya tidak akan menempatkan
barang-barang yang mudah pecah di sembarang rak. Barang-barang
yang mahal, terutama yang fi sik ukurannya kecil biasanya di pajang
di etalase. Barang-barang kemasan kaleng yang cukup berat juga
biasanya ditempatkan pada shelve paling bawah untuk menghindari
resiko timbulnya cedera bagi pengunjung (terutama anak-anak) jika
barang tersebut terjatuh.
3. Display yang dilakukan oleh peritel harus informative dan komunikatif,
para peritel dapat memanfaatkan alat alat bantu seperti shelf talker,
standing poster, signage dan jenis-jenis point of purchase (POP)
materials yang lain.

Teknik Tata Cahaya Display

Teknik Tata Cahaya Display

Di era 1980-an dan 1990-an, desain lighting utamanya lebih fokus pada

pencahayaan merchandise (barang yang ditawarkan). Eksistensi produk di suatu

toko ditonjolkan melalui penerapan high level lighting tepat menyorot produk yang

dipasajek sekitar yang dibuat redup, menegaskan fi gur manekin sebagai aksen.

Sejalan dengan waktu dan perubahan gaya berbelanja, kini pencahayaan

merchandise dituntut berkombinasi dengan pencahayaan ruang (space illumination).

Bukan sekadar keseimbangan produk dan ruang, lighting terutama ditujukan untuk

penciptaan citra ruang. Space illumination tematik untuk memancarkan ambience

tertentu pun didesain agar pencahayaan mengejutkan, menggoda, menstimulasi

emosi.

Penerangan ruang (general lighting) toko hendaknya hadir dalam kuat cahaya

tinggi. Citra visual didapat dari tata cahaya pada elemen arsitektur misal, partisi,

drop off, dan back drop dengan color rendering yang tepat. Elemen-elemen itu

sendiri mampu meningkatkan kontras bidang-bidang dalam ruang sehingga ruang

tak tampil ”kosong” dan datar. Permainan maju mundur dinding, turun naik ceiling,

profi l garis, tekstur, warna dan pembayangannya semakin khas ditangkap mata

bila diramu dengan pencahayaan dan efek yang tepat. Satu lagi, pencahyaan pada

satu elemen besar pengaruhnya pada kesan ruang keseluruhan. Pada dinding

akan membuat ruang terasa luas, pada ceiling akan membuatnya terasa tinggi.

Perkembangan desain toko dengan permainan elemen (estetis) arsitektur,

memudahkan kreativitas tata letak merchandise. Rak atau showcase bisa

diintegrasikan dengan partisi/dinding. Di sela-sela ruang yang terbentuk

antarkeduanya, perangkat lampu dapat diletakkan, dengan armature yang tak

terekspos. Karena di luar yang tampak cuma berkas cahaya, maka bidang elemen

dan ruang keseluruhan terlihat bersih.

Untuk menciptakan ambience sekaligus tetap berpegang pada fungsi

penerangan umum dan merchandise, dibutuhkan aplikasi lebih dari satu spesifi kasi.

Tak hanya seperti konsep spotlight untuk aksen dan down light untuk umum,

melainkan sebuah sistem yang memuat berbagai fungsi.

Dinamisasi/fl eksibilitas sistem lighting yang mempertimbangkan perubahan

warna display dan warna barang seiring waktu dan tren, lebih utama menyediakan

alternatif konsep pencahayaan yang cukup banyak dengan dana maksimal.

Dinamis dan fl eksibel bisa dengan penggunaan multitrack (tidak dengan

sirkuit tunggal), dengan memilih spotlight pada sebuah track atau titik posisi yang

pasti yang arahnya dapat mudah diubah-ubah. Di samping dengan memilih fi tting

yang dapat dipakai oleh lampu-lampu yang berbeda agar tersedia kebutuhan

rendering warna yang berbeda-beda. Sebagai catatan, tingkat rendering warna

(color rendering) suatu lampu amat besar pengaruhnya terhadap kualitas visual

ambience suatu objek.

Sistem kontrol pencahyaan pada satu area perbelanjaan sebaiknya menyediakan

2 alternatif untuk siang dan malam dan mampu menciptakan ambience yang dapat

berubah-ubah dengan distribusi dan warna cahaya yang berbeda beda.

Ada empat model pencahayaan yang sepatutnya kita kenal, yaitu:

1. Ambient lighting, yaitu pencahayaan seluruh ruang technically, ambient lighting

artinya total sinar yang datang dari semua arah, untuk seluruh ruang. Sebuah

lampu yang diletakkan di tengah-tengah ruang hanya salah satu bagian dari

ambient lighting. Tetapi bila ada sinar yang datang dari semua tepi plafon,

misalnya, terciptalah ambient lighting. Dalam membuat ambient lighting, sinar

haruslah cukup fl eksible untuk berbagai situasi atau peristiwa yang mungkin

terjadi di ruangan.

2. Local lighting, atau pencahayaan lokal.pencahayaan jenis ini ditujukan untuk

aktivitas keseharian.

3. Accent lighting, atau pencahayaan yang berfungsi sebagai aksen. Selain contoh

di atas, pencahayaan jenis ini dapat dipakai untuk membuat sudut tertentu,

barang tertentu menjadi menonjol. Pencahayaan seperti ini dapat membimbing

pengunjung untuk melihat suatu barang, atau koleksi tertentu.

4. Natural lighting alias sinar matahari bahkan cahaya bulan. Bila didesain sejak

awal, pemanfaatan sinar matahari dapat membuat ruangan menjadi terang.

Tujuan komunikasi bisnis

Tujuan komunikasi bisnis

Secara umum, ada tiga tujuan komunikasi bisnis yaitu; memberi informasi

(Informing) persuasi (persuading) dan melakukan kolaborasi, (collaborating) dengan

audiens (pelanggan).

a. Memberi informasi

Tujuan pertama dalam komunikasi bisnis adalah memberikan informasi

yang berkaitan dengan dunia bisnis kepada pihak lain, contoh seorang

pemimpin perusahaan ingin mendapatkan pegawai yang diharapkan, maka Dia

memasang iklan melalui mass media, memasang websitus/situs di jalur internet,

dalam hal ini setiap media mempunyai kelebihan dan kekurangan dilihat dari

jangkauan dan biayanya, untuk itu harus memilih media mana yang akan dipilih.

Dan itu tergantung pada kebijakan perusahaan dengan melihat kemampuan

internal perusahaan tersebut. Contoh yang lain misalnya sebuah Departemen

Store memasang tulisan discotn besar-besaran pada produknya.

b. Memberi persuasi

Tujuan kedua komunikasi bisnis adalah memberikan persuasi kepada

pihak lain agar apa yang disampaikan dapat dipahami dengan baik dan

benar, hal ini sering dilakukan terutama yang berkaitan dengan penegasan

konfi rmasi pesanan pelanggan atau negoisasi dengan pelanggan, agar kedua

pihak memperoleh manfaat secara bersama-sama tanpa ada yang merasa

dirugikan.

c. Melakukan Kolaborasi

Tujuan ketiga dalam komunikasi bisnis adalah melakukan kolaborasi, atau

kerja sama bisnis antara seseorang dengan orang lain, melalui jalinan komunikasi

bisnis tersebut seseorang dapat dengan mudah melakukan kerja sama bisnis,

saat sekarang seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi komunikasi maka

seseorang dapat menggunakan berbagai media telekomunikasi seperti telpon,

faksimile, telpon seluler, internet surat elektronik, teleconference. Teknologi

komunikasi tersebut sangat penting artinya dalam pererat kerja sama bisnis.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Top WordPress Themes