Welcome to our website

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Duis aute irure dolor in reprehenderit in voluptate velit esse cillum dolore eu fugiat nulla pariatur. Excepteur sint occaecat cupidatat non proident, sunt in culpa qui officia deserunt mollit anim id est laborum. ed ut perspiciatis unde omnis iste.

Selasa, 22 Maret 2011

Alternatif Penyaluran

Alternatif Penyaluran

Sistem distribusi itu tidak hanya berbeda di antara perusahaan-perusahaan, tetapi juga sering berubah-ubah dari waktu ke waktu. Sebuah saluran yang dapat bekerja dengan baik pada saat perusahaan itu kecil, mungkin dapat menjadi kurang efi sien pada saat bertambah besar dan dapat menangani beberapa fungsi distribusi dengan para pelaksananya. Di samping itu ada factor lain yang dapat menyebabkan metode distribusi yang ada menjadi ketinggalan zaman. faktor tersebut adalah:

• Perubahan-perubahan dalam keinginan pembeli.

• Perubahan-perubahan dalam metode transportasi.

• Kemauan para penyalur untuk menangani produk yang lebih banyak macamnya.

• Kesediaan perantara untuk menyalurkan produk.

Sebuah perusahaan dapat memutuskan bahwa jenis pedagang besar tertentu adalah cukup ideal untuk sebuah product line; tetapi apabila penyalur yang ada berada pada lokasi yang kurang menguntungkan atau juga menangani produk saingan maka lebih baik perusahaan mengalihkan ke saluran distribusi lainnya.

Beberapa alternatif distribusi yang akan dibahas di sini didasarkan pada jenis barang dan segmen pasarnya, yaitu:

• Barang konsumsi, ditujukan untuk segmen pasar konsumen

• Barang industri, ditujukan untuk segmen pasar industri

Kedua macam barang tersebut memerlukan saluran distribusi yang berbeda karena segmen pasar yang dituju juga berbeda. Namun demikian dapat juga dipakai satu macam saluran untuk kedua jenis produk tersebut. Hal ini dimungkinkan karena satu jenis barang dapat digolongkan ke dalam barang konsumsi maupun barang industri. Sebagai contoh; tekstil, dapat digunakan oleh perusahaan konveksi kecil sebagai bahan bakunya (termasuk barang industri), tetapi juga dapat dibeli oleh konsumen rumah tangga (termasuk barang konsumsi) untuk keperluan sendiri. Untuk mencapai/menuju ke segmen pasar pasar industri dan segmen pasar konsumen, produsen tekstil dapat memakai saluran yang sama, yaitu melalui pedagang besar dan pengecer.

a. Alternatif Strategi Distribusi

Masalah penting lainnya dari saluran distribusi adalah pemilihan dan penentuan strategi saluran distribusi. Strategi saluran distribusi adalah masalah penentuan cara dalam mana perusahaan mencoba untuk menjual produk-produknya ke pasar, apakah akan menggunakan penyalur A, B, C ataupun penyalur lainnya, ada beberapa alternatif strategi yang berbeda untuk memasarkan produk baru yang terdiri dari:

1. Menggunakan saluran yang ada

Alternatif saluran distribusi yang pertama adalah dengan menggunakan saluran distribusi yang ada dalam pemasaran produknya. Pemilihan penyalur yang ada dilatarbelakangi oleh suatu pertimbangan terdiri dari:

- Perlunya mempertahankan hubungan yang baik dengan penyalur yang ada.

- Kredibilitas penyalur yang ada pada umumnya sudah diketahui oleh perusahaan.

2. Menggunakan Penyalur Baru

Sebagai alternatif yang kedua adalah dengan memasarkan penyalur baru ke dalam saluran distribusi perusahaan. Dalam hal ini penyalur baru diharapkan dapat mengambil pengalaman dari penyalur lama untuk mengetahui cara-cara yang sudah ditempuh.

3. Membeli Perusahaan Kecil yang Berfungsi Sebagai Penyalur

Strategi saluran diatribusi yang ketiga yang dipelajari sebagai alternatif lain adalah memberikan kemungkinan pada perusahaan untuk membeli atau menambah perusahaan baru yang akan berfungsi sebagai penyalur produknya.dengan demikian perusahaan yang dibeli tersebut hanya berfungsi sebagai penyalur produk yang dihasilkan saja.

4. Penjualan Produk dalam Jumlah Besar Kepada Perusahaan lain

Alternatif strategi saluran distribusi yang keempat yang dapat ditempuh adalah dengan menjual produk baru tersebut kepada perusahaan lain (dalam jumlah besar) yang selanjutnya mendistribusikannya kepada pembeli. Alternatif strategi yang demikian, hanya akan menghasilkan laba yang rendah tetapi perusahaan memikul risiko yang lebih kecil.

5. Pembungkusan dan Penjualan Produk Melalui Pos

Sebagai alternatif yang terakhir di mana strategi ini dilakukan oleh perusahaan dengan menghasilkan pembungkusan dan penjualannya melalui pos. Penggunaan strategi ini didukung oleh kegiatan advertensi yang intensif.

Dari kelima alternatif yang ada dapat dipilih oleh perusahaan mana yang paling menguntungkan akan sangat tergantung oleh situasi dan kondisi perusahaan atau faktor-faktor ekstern lainnya. Dengan memilih dan menentukan berbagai alternatif tersebut dapat digunakan sebuah metode yang disebut; Metode Nilai Tertimbang (Weight Factor Score Method)

Saluran Distribusi Secara Fisik

Saluran Distribusi Secara Fisik

Kegiatan memindahkan barang dari suatu tempat tertentu ke tempat lainnya dalan saat tertentu adalah suatu kegiatan yang disebut sebagai distribusi fisik.

Suatu sistem distribusi barang dari suatu tempat ke tempat lainnya harus diatur sedemikian rupa, pada saat yang dianggap tepat, sehingga dapat diselarasikan dengan upaya untuk memaksimumkan kesempatan pada tingkat jumlah penjualan yang menguntungkan.

Produsen produk fi sik dan jasa harus memutuskan cara terbaik untuk menyimpan dan memindahkan barang dan jasanya ke pasar tujuan. Mereka biasanya perlu mengikatkan diri dengan pelayanan perusahaan distribusi fisik – perusahaan gudang dan pengangkutan – untuk membantu tugas ini. Produsen mengetahui bahwa efektivitas distribusi fisik mereka akan mempunyai pengaruh

besar pada kepuasan pelanggan dan biaya perusahaan. Sistem distribusi yang buruk dapat menghancurkan produk yang sebenarnya bagus.

Jadi, dapat dikatakan bahwa secara pokok distribusi fisik adalah meliputi masalah pengangkutan barang, penyimpanan barang, dan pertanggungan risiko yang mungkin timbul.

a. Pengangkutan

Pengangkutan adalah suatu upaya pemindahan barang dari suatu tempat ke tempat lainnya dengan menggunakan sarana angkutan tertentu.

Sarana angkutan tersebut dapat berupa kendaraan yang menggunakan jalan darat. Udara, perairan (sungai, danau, laut) dan untuk jenis barang tertentu adapula yang menggunakan jalur pipa (contoh air PDAM, minyak bumi dan gas).

Berdasarkan pola kegiatannya, bentuk pengangkutan dapat berupa pengangkutan yang dilaksanakan sendiri atau disebut pengangkutan sendiri (private carrier), yaitu bilamana perusahaan/pabrik mengangkut barangbarangnya dengan menggunakan sarana angkutan milik perusahaan/pabrik itu sendiri.

a. Pengangkutan dilaksanakan dengan pengangkutan umum (public carrier), yaitu apabila barang diangkut dengan menggunakan sarana angkutan umum milik pihak lain yang telah memiliki rute dan jadwal tertentu.

b. Pengangkutan dilaksanakan dengan menggunakan jas pengangkutan kontrak (contract carrier). Barang diangkut dengan menyewa/ mengontrak sarana angkutan milik pihak lain.

c. Pengangkutan dilaksanakan dengan cara menggunakan jasa ekspeditur atau perantara pengangkutan (freight forwader)

b. Penyimpanan Barang

Masalah penyimpanan barang merupakan hal yang penting untuk diperhatikan, sejak barang tersebut keluar dari tempat produksi, tempat transit dan tujuan. Bagi perusahaan yang tidak mempunyai fasilitas tempat penyimpanan sendiri dapat menggunakan gudang (warehouse) secara menyewa dari pihak lain yang menyewakan gudang umum (public warehouse)

c. Pertanggungan Risiko

Perusahaan tentunya menginginkan barang-barang dagangannya dapat didistribusikan secara aman sampai tempat tujuan. Namun demikian tentu saja terdapat berbagai risiko yang timbul dalam perjalanan, di mana barang dapat rusak karena cara pengangkutan yang kurang baik, kecelakaan terbakar di gudang atau hilang karena pencurian. Untuk meminimalkan risiko macam ini, pihak perusahaan dapat menggunakan jasa asuransi.

Peranan Perantara

Peranan Perantara

Penggunaan perantara sebagian besar karena keunggulan efi siensi mereka dalam membuat barang tersedia secara luas dan mudah diperoleh pasar sasaran. Perantara pemasaran, dengan hubungan, pengalaman, spesialisasi, dan skala operasi mereka, biasanya menawarkan kepada perusahaan lebih banyak daripada yang dapat mereka capai sendiri.

Dari segi sistem ekonomi, peran dasar perantara pemasaran adalah mengubah persediaan yang bersifat heterogen menjadi berbagai macam barang yang ingin dibeli orang. Menurut Stern dan El-Ansary: Perantara melancarkan arus barang dan jasa … Prosedur ini diperlukan untuk menjembatani ketidaksesuaian antara berbagai barang dan jasa yang dihasilkan produsen dan bermacam barang yang diminta konsumen.

Ketidaksesuaian itu timbul dari kenyataan bahwa produsen biasanya menghasilkan sejumlah besar barang dengan variasi terbatas, sedangkan konsumen biasanya menginginkan jumlah terbatas dari berbagai jenis barang.

Selama suatu lembaga atau perusahaan itu menawarkan barang atau jasa, masalah distribusi ini tidak dapat dipisahkan. Kegiatan distribusi selalu dilakukan meskipun tidak menggunakan perantara sebagai lembaga. Jadi, kegiatan distribusinya langsung diarahkan oleh produsen kepada konsumennya. Namun tidak jarang para perantara ini digunakan oleh produsen untuik mendistribusikan hasil produksinya kepada pembeli akhir.

Perantara pemasaran ini merupakan lembaga atau individu yang menjalankan kegiatan khusus di bidang distribusi. Mereka itu adalah:

• Perantara pedagang

• Perantara agen

Meskipun sama-sama perantara, tetapi mereka mempunyai perbedaan-perbedaan.

Pada umumnya, alasan utama untuk menggunakan perantara adalah bahwa mereka ini dapat membantu meningkatkan efi siensi distribusi. Penggunaan perantara mempunyai beberapa keuntungan, yaitu:

1. Mengurangi tugas produsen dalam kegiatan distribusi untuk mencapai konsumen. Produsen cukup menghubungi perantara untuk menyampaikan produknya kepada konsumen yang banyak. Ini dipandang lebih efi sien.

2. Kegiatan distribusinya cukup baik bilamana perantara sudah mempunyai pengalaman. Mereka dipandang lebih baik karena memang tugas yang dilakukan hanyalah di bidang distribusi.

3. Perantara dapat membantu menyediakan peralatan dan jasa reparasi yang dibutuhkan untuk beberapa jenis produk tertentu, sehingga produsen tidak perlu menyediakannya.

4. Perantara dapat membantu di bidang pengangkutan dengan menyediakan alat-alat transpor sehingga meringankan beban produsen maupun konsumen yang mencarinya.

5. Perantara dapat membantu di bidang penyimpanan dengan menyediakan fasilitas-fasilitas penyimpanan, seperti gudang dan fasilitas penyimpanan lainnya sehingga sewaktu-waktu dibutuhkan oleh konsumen dapat memenuhinya.

6. Perantara dapat membantu di bidang keuangan dengan menyediakan sejumlah dana untuk melakukan penjualan secara kredit kepada pembeli akhir, atau untuk melakukan pembelian tunai dari produsen.

7. Keuntungan lain yang dapat diharapkan oleh produsen dari perantara ini adalah:

• Membantu dalam pencarian konsumen

• Membantu dalam kegiatan pormosi

• Membantu dalam penyediaan informasi

• Membantu dalam pengepakan dan pembungkusan

• Membantu dalam penyortiran

Umumnya perantara yang perlu dipertimbangkan para pengusaha antara lain meliputi:

1. Service yang diberikan

Perusahaan yang bertindak sebagai produsen akan bersedia menggunakan perantara jika pihak perantara tersebut memberikan service yang baik misalnya menyediakan fasilitas pengangkutan dan pergudangan.

2. Kemampuan menjual

Faktor yang diperhitungkan oleh perusahaan-perusahaan dalam menggunakan perantara adalah kemampuan, menjual produk yang dihasilkan. Perantara yang berhasil mencapai volume penjualan yang tinggi maka perusahaan akan tertarik memilihnya sebagai salah satu channel distribusinya.

3. Biaya

Untuk memilih saluran distribusi, faktor biaya yang harus diperhitungkan.

Biaya yang merupakan hal yang tidak pernah terlepas dari segala usaha selalu diperhatikan dalam menentukan saluran, apabila penggunaan distributor dapat memperingan kerugian dan memperingan biaya penjualan, perusahaan akan terus menggunakan perantara karena juga dapat memperkecil harga jual akhir sehingga dengan demikian harga produk dapat bersaing dengan produk sejenis lainnya.

Distribusi yang efekitif dapat mencegah para konsumen yang setia beralih pada produk perusahaan pesaing, di samping dapat pula menambah jumlah pemakai industri ayng baru. Jelas pekerjaan itu bukan pekerjaan yang mudah terlebih bila menjangkau daerah pemasaran yang sangat luas karena lingkup pekerjaan juga risiko yang ada, maka dengan pertimbangan tertentu para perusahaan akan memilih untuk menyerahkan pemasaran tersebut ke distributor, dengan kata lain perusahaan memakai saluran distribusi tidak

langsung (Indirect Channel od Distribution).

Dalam hal ini menurut Drs. Siswanto Sutojo pertimbangan tersebut dilatarbelakangi antara lain:

1. Kebutuhan dana dan tenaga

Untuk menyalurkan produk ke pasar, kadang-kadang diperlukan dana dan tenaga yang cukup besar. Bagi perusahaan yang kemampuan keuangan dan manajemen distribusinya terbatas, mereka dapat menyerahkan kegiatan distribusi produk mereka kepada para distributor. Strategi penyerahan kegiatan distribusi tersebut dapat juga dilakukan secara terbatas, misalnya untuk daerah tertentu saja.

2. Kondisi daerah pemasaran setempat

Keputusan perusahaan untuk menyerahkan distribusi pada satu atau dua daerah pemasaran tertentu saja kepada para distributor, dapat terjadi karena kondisi pemasaran tersebut kurang menguntungkan untuk dikerjakan sendiri. Permintaan akan suatu produk di daerah tertentu tidak cukup besar, kondisi infrakstruktur kurang memadai dan biaya pengangkutan mahal. Merupakan bahan-bahan pertimbangan yang menyebabkan perusahaan menyerahkan pemasaran produk kepada pihak lain.

3. Pengalaman tentang kondisi lokal

Pengalaman distributor setempat selama bertahun-tahun menangani daerah pemasaran, sering kali sulit untuk digunakan oleh perusahaan. Bagi perusahaan yang ingin memasuki daerah pemasaran baru, sering kali lebih menguntungkan bagi mereka untuk bekerja sama dengan distributor setempat daripada menyalurkan sendiri hasil poduksinya.

4. Peraturan pemerintah

Sejak beberapa tahun yang lalu, pemerintah menetapkan bahwa perusahaan PMA tidak boleh mendistribusikan hasil produksinya sendiri. Karena peraturan pemerintah tersebut, kebanyakan perusahaan menggunakan distributor.

Penggunaan distributor di sini oleh perusahaan ditujukan untuk membantu usahanya dalam melakukan penjualan. Dengan dibentuknya distributor perusahaan dapat mengurangi biaya pemasaran, ini sangat berpengaruh khususnya untuk daerah pemasaran yang jaraknya sangat jauh dari tempat perusahaan (tersebar).

Pemilihan penyalur yang akan digunakan dalam saluran distribusi harus ditentukan berdasarkan pertimbangan laba, selain beberapa faktor yang juga memberikan pengaruh, ini berarti perusahaan harus membuat keseimbangan antara penggunaan jenis penyalur yang berbeda dengan pendapatan yang dihasilkan metode distribusinya. Pengurangan biaya dengan memasukkan perantara di dalam saluran distribusi dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Seorang pedagang besar dalam saluran biaya komunikasi dan penjualan produsen dapat berkurang karena sebagian dari biaya tersebut dapat dibebankan kepada pedagang besar.

Menentukan Banyaknya Penyalur

Menentukan Banyaknya Penyalur

Setelah menentukan saluran distribusi yang akan dipakai, perusahaan/ produsen perlu menentukan jumlah perantara untuk ditempatkan sebagai pedagang besar atau pengecer. Dalam hal ini produsen mempunyai tiga alternatif pilihan, yaitu : (1) distribusi intensif, (2) distribusi selektif, dan (3) distribusi eksklusif.

a. Distribusi Intensif

Distribusi intensif ini dapat dilakukan oleh produsen yang menjual barang konvenien. Perusahaan berusaha menggunakan penyalur, terutama pengecer sebanyak-banyaknya untuk mendekati dan mencapai konsumen. Semua ini dimaksudkan untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan konsumen. Makin cepat konsumen terpenuhi kebutuhannya, mereka makin merasakan adanya kepuasan. Sedangkan untuk barang industri, distribusi

intensif ini biasanya terbatas untuk jenis operating supplies atau barang standar lainnya, seperti obeng, minyak pelumas, dan sebagainya.

b. Distribusi Selektif

Perusahaan yang menggunakan distribusi selektif ini berusaha memilih suatu jumlah pedagang besar dan/atau pengecer yang terbatas dalam suatu daerah geografi s. Biasanya saluran ini dipakai untuk memasarkan produk baru, barang shopping atau barang special, dan barang industri jenis accessory equipment. Perusahaan dapat beralih ke distribusi selektif apabila hal ini lebih menguntungkan daripada distribusi intensif, sehingga pengecer yang digunakan akan lebih terbatas. Penggunaan saluran distribusi selektif ini dimaksudkan untuk meniadakan penyalur yang tidak menguntungkan dan meningkatkan volume penjualan dengan jumlah transaksi lebih terbatas.

c. Distribusi Eksklusif

Distribusi eksklusif ini dilakukan oleh perusahaan dengan hanya menggunakan satu pedagang besar atau pengecer dalam daerah pasar tertentu. Jadi produsen/penyedia hanya menjual produknya kepada satu pedagang atau pengecer saja. Dengan hanya satu penyalur, produsen akan lebih mudah dalam mengadakan pengawasan, terutama pengawasan pada tingkat harga eceran maupun pada usaha kerja sama dengan penyalur dalam periklanan. Penyalur juga memiliki keuntungan karena banyak pembeli yang membeli padanya. Pada umumnya, distribusi eksklusif ini banyak dipakai:

1. Untuk barang-barang spesial.

2. Apabila penyalur bersedia membuat persediaan dalam jumlah besar sehingga pembeli lebih leluasa dalam memilih produk yang akan dibelinya.

3. Apabila produk yang dijual memerlukan service sesudah penjualan (pemasangan,reparasi dan sebagainya), misalnya; alat pendingin udara (AC), almari es, mesin pertanian, alat-alat konstruksi bangunan dan sebagainya.

Faktor-faktor yang menentukan saluran distribusi

Faktor-faktor yang menentukan saluran distribusi

Produsen harus memperhatikan berbagai macam faktor yang sangat berpengaruh dalam pemilihan saluran distribusi. Faktor-faktor tersebut antara lain menyangkut: (1) pertimbangan pasar, (2) pertimbangan barang, (3) pertimbangan perusahaan, dan (4) pertimbangan perantara.

a. Pertimbangan Pasar

Karena saluran distribusi sangat dipengaruhi oleh pola pembelian konsumen, maka keadaan pasar ini merupakan faktor penentu dalam pemilihan saluran. Beberapa faktor pasar yang harus diperhatikan adalah (a) konsumen atau pasar industri, (b) jumlah pembeli potensial, (c) konsentrasi pasar secara geografis, (d) jumlah pesanan, dan (e) kebiasaan dalam pembelian.

a. Konsumen atau pasar industri

Apabila pasarnya berupa pasar industri, maka pengecer jarang atau bahkan tidak pernah digunakan dalam saluran ini. Jika pasarnya berupa konsumen dan pasar industri, perusahaan akan menggunakan lebih dari satu saluran.

b. Jumlah pembeli potensial

Jika jumlah konsumen relatif kecil dalam pasarnya, maka perusahaan dapat mengadakan penjualan secara langsung kepada pemakai.

c. Konsentrasi pasar secara geografis

Secara geografi s pasar dapat dibagi ke dalam beberapa konsentrasi seperti industri tekstil, industri kertas, dan sebagainya. Untuk daerah konsentrasi yang mempunyai tingkat kepadatan yang tinggi maka perusahaan dapat menggunakan distributor industri.

d. Jumlah pesanan

Volume penjualan dari sebuah perusahaan akan sangat berpengaruh terhadap saluran yang dipakainya. Jika volume yang dibeli oleh pemakai industri tidak terlalu besar atau relatif kecil, maka perusahaan dapat menggunakan distributor industri (untuk barangbarang jenis perlengkapan operasi)

e. Kebiasaan dalam pembelian

Kebiasaan membeli dari konsumen akhir dan pemakai industri sangat berpengaruh pula terhadap kebijaksanaan dalam penyaluran. Termasuk dalam kebiasaan membeli ini antara lain:

• Kemauan untuk membelanjakan uangnya

• Tertariknya pada pembelian dengan kredit

• Lebih senang melakukan pembelian yang tidak berkali-kali

• Tertariknya pada pelayanan penjual

b. Pertimbangan Barang

Beberapa faktor yang harus dipertimbangkan dari segi barang ini antara lain: (a) nilai unit, (b) besar dan berat barang, (c) mudah rusaknya barang, (d) sifat teknis, (e) barang standar dan pesanan, (f) luasnya prodct line.

a. Nilai unit

Jika nila unit dari barang yang dijual relatif rendah maka produsen cenderung untuk menggunakan saluran distribusi yang panjang. Tetapi sebaliknya, jika nilai unitnya relatif tinggi maka saluran distribusinya pendek atau langsung.

b. Besar dan berat barang

Manajemen harus mempertimbangkan ongkos angkut dalam hubungannya dengan nilai barang secara keseluruhan di mana besar dan berat barang sangat menentukan. Jika ongkos angkut terlalu besar dibandingkan dengan nilai barangnya sehingga terdapat beban yang berat bagi perusahaan, maka sebagian beban tersebut dapat dialihkan kepada perantara. Jadi, perantara ikut menanggung sebagian dari ongkos angkut.

c. Mudah rusaknya barang

Jika barang yang dijual mudah rusak maka perusahaan tidak perlu menggunakan perantara. Jika ingin menggunakannya maka harus dipilih perantara yang memiliki fasilitas penyimpanan yang cukup baik.

d. Sifat teknis

Beberapa jemis barang industri seperti instalasi biasanya disalurkan secara langsung kepada pemakai industri. Dalam hal ini produsen harus mempunyai penjual yang dapat menerangkan berbagai masalah teknis penggunaan dan pemeliharaannya. Mereka juga harus dapat memberikan pelayanan baik sebelum maupun sesudah penjualan.

Pekerjaan ini sangat jarang sekali atau bahkan tidak pernah dilakukan oleh pedagang besar/grosir.

e. Barang standar dan pesanan

Jika barang yang dijual berupa barang standar maka dipelihara sejumlah persediaan pada penyalur. Demikian pula sebaliknya, kalau barang yang dijual berdasarkan pesanan maka penyalur tidak perlu memelihara persediaan.

f. Luasnya product line

Jika perusahaan hanya membuat satu macam barang saja, maka penggunaan pedagang besar sebagai penyalur adalah baik. Tetapi, jika macam barangnya banyak maka perusahaan dapat menjual langsung kepada para pengecer.

c. Pertimbangan Perusahaan

Pada segi perusahaan, beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan adalah: (a) sumber pembelanjaan, (b) pengalaman dan kemampuan manajemen, (c) pengawasan saluran, dan (d) pelayanan yang diberikan oleh penjual.

a. Sumber pembelanjaan

Penggunaan saluran distribusi langsung atau pendek biasanya memerlukan jumlah dana yang lebih besar. Oleh karena itu, saluran distribusi pendek ini kebanyakan hanya dilakukan oleh perusahaan yang kuat di bidang keuangannya. Perusahaan yang tidak kuat kondisi keuangannya akan cenderung menggunakan saluran distribusi lebih panjang.

b. Pengalaman dan kemampuan manajemen

Biasanya, perusahaan yang menjual barang baru, atau ingin memasuki pasar baru, lebih suka menggunakan perantara. Hal ini disebabkan karena umumnya para perantara sudah mempunyai pengalaman, sehingga manajemen dapat mengambil pelajaran dari mereka.

c. Pengawasan saluran

Faktor pengawasan saluran kadang-kadang menjadi pusat perhatian produsen dalam kebijaksanaan saluran distribusinya. Pengawasan akan lebih mudah dilakukan bilamana saluran distribusinya pendek. Jadi, perusahaan yang ingin mengawasi penyaluran barangnya cenderung memilih saluran yang pendek walaupun ongkosnya tinggi.

d. Pelayanan yang diberikan oleh penjual

jika produsen ingin memberikan pelayanan yang lebih baik seperti membangun etalase (ruang peragaan), mencarikan pembeli untuik perantara, maka akan banyak perantara yang bersedia menjadi penyalurnya.

d. Pertimbangan Perantara

Pada segi perantara, beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan adalah: (a) pelayanan yang diberikan oleh perantara, (b) kegunaan perantara, (c) sikap perantara terhadap kebijaksanaan produsen, (d) volume penjualan, dan (e) ongkos.

a. Pelayanan yang diberikan oleh perantara

Jika perantara mau memberikan pelayanan yang lebih baik, misalnya dengan memberikan fasilitas penyimpanan, maka produsen akan bersedia menggunakannya sebagai penyalur.

b. Kegunaan perantara

Perantara akan digunakan sebagai penyalur apabila ia dapat membawa barang produsen dalam persaingan, dan selalu mempunyai inisiatif untuk memberikan usul tentang barang baru.

c. Sikap perantara terhadap kebijaksanaan produsen

Kalau perantara bersedia menerima risiko yang dibebankan oleh produsen, misalnya risiko turunnya harga, maka produsen dapat memilihnya sebagai penyalur. Hal ini dapat memperingan tanggung jawab produsen dalam menghadapi berbagai macam risiko.

d. Volume penjualan

Dalam hal ini, produsen cenderung memilih perantara yang dapat menawarkan barangnya dalam volume yang besar untuk jangka waktu yang lama.

e. Ongkos

Jika ongkos dalam penyaluran barang dapat lebih ringan dengan digunakannya perantara, maka hal ini dapat dilaksanakan terus.

Sistem Distribusi Barang

Sistem Distribusi Barang

Dalam rangka kegiatan memperlancar arus barang/jasa dari produsen ke konsumen, maka salah satu faktor penting yang tidak boleh diabaikan adalah memilih secara tepat saluran distribusi /channel of distrubution yang akan digunakan dalam rangka usaha penyaluran barang-barang /jasa-jasa dari produsen ke konsumen. yang disebut dengan saluran distribusi adalah lembaga-lembaga distributor/ lembaga-lembaga penyalur yang mempunyai kegiatan untuk menyalurkan/ menyampaikan barang-barang/jasa-jasa dari produsen ke konsumen. Distributordistributor/ penyalur ini bekerja secara aktif untuk mengusahakan perpindahan bukan hanya secara fi sik tetapi dalam arti barang-barang tersebut dapat dibeli oleh konsumen. Jadi di sini yang disebut distributor/penyalur misalnya adalah agen, grosir, retailer, dan sebagainya. Tapi tidak termasuk di sini perusahaan transpor yang secara fi sik ikut menyalurkan barang/jasa dari produsen ke konsumen, sebab perusahaan transpor seperti ini tidak mempunyai kewajiban moril untuk ikut mengusahakan agar barang/jasa tersebut dapat diterima/dibeli oleh konsumen.

Oleh karena pengaruhnya sangat besar terhadap kelancaran penjualan maka masalah saluran distribusi ini harus betul-betul dipertimbangkan dan sama sekali tidak boleh diabaikan. Menurut pakar ekonomi, David A Revzan ”saluran distribusi merupakan suatu jalur yang dilalui oleh arus barang dari produsen ke perantara dan akhirnya sampai pada pemakai”.

Defi nisi atau pengertian lain tentang saluran pemasaran ini dikemukakan oleh The American marketing Association, yang menekankan tentang banyaknya lembaga yang ada dalam aliran/arus barang. Assosiasi ini menyatakan ”saluran merupakan suatu struktur unit organisasi dalam perusahaan dan luar perusahaan yang terdiri atas agen, dealer, pedagang besar dan pengecer, melalui mana sebuah komoditi produk atau jasa yang dipasarkan”

Pengertian yang kedua mempunyai arti dan fungsi yang lebih luas, untuk itu dapat diambil kesimpulan bahwa:

1. Saluran merupakan sekelompok lembaga yang ada di antara berbagai lembaga yang mengadakan kerja sama untuk mencapai suatu tujuan.

2. Tujuan dan Saluran Distribusi adalah untuk mencapai pasar-pasar tertentu.

Dengan demikian pasar merupakan tujuan akhir dari kegiatan saluran.

3. Saluran Distribusi melaksanakan dua kegiatan penting untuk mencapai tujuan, yaitu:

- mengadakan penggolongan, dan

- mendistribusikannya.

Dari defi nisi yang dikemukakan oleh para penulis tersebut dapat diketahui bahwa fungsi dan peranan saluran distribusi sebagai salah satu aspek kegiatan pemasaran perusahaan di dalam usaha mendistribusikan barang/jasa dari titik produsen ke konsumen akhir merupakan suatu kegiatan yang sangat penting. Kegiatan-kegiatan pemasaran yang berkaitan dengan produk, penetapan harga dan promosi, yang dilakukan belum dapat dikatakan sebagai usaha terpadu kalau tidak dilengkapi dengan kegiatan distribusi.

Masih banyak aspek-aspek yang perlu diatur oleh produsen dalam kaitannya dengan distribusi tersebut seperti:

- Distribusi fi sik.

- Penyimpangan.

- Kelancaran penjualan.

- Syarat penjualan.

- Persyaratan promosi.

Demikian pula di dalam memutuskan apakah distribusi produk akan ditangani sendiri atau diserahkan kepada pedagang, tentu perlu dipertimbangkan secara baik oleh perusahaan, setelah melihat dan memerhatikan hal-hal, seperti:

- Kebutuhan dana Personalia penjualan,

- Efi siensi kerja dan pengaturan dana,

- Keadaan prasarana setempat,

- Pengetahuan keadaan pasar setempat, dan sebagainya.

1. Tempat wilayah saluran Distribusi

Proses penyaluran produk sampai ke tangan konsumen akhir dapat menggunakan saluran yang panjang ataupun pendek sesuai dengan kebijaksanaan saluran distribusi yang akan dilaksanakan perusahaan. Mata rantai distribusi menurut bentuknya dapat dibagi atas dua, yaitu:

a. Saluran Distribusi Langsung (Direct Channel of Distribution)

b. Saluran Distribusi Tidak Langsung (Indirect Channel of Distribution).

Untuk membahas secara rinci tentang kedua bentuk saluran tersebut dapat diuraikan sebagai berikut.

a. Saluran Distribusi Langsung

Adalah bentuk penyaluran barang-barang/jasa-jasa dari produsen ke konsumen dengan tidak melalui perantara.

Bentuk saluran distribusi langsung dapat dibagi dalam 4 (empat)

macam, yaitu:

1). Selling at the point production.

Adalah bentuk penjualan langsung dilakukan di tempat produksi.

Contoh:

- Petani buah yang melakukan penjualan buah-buahan yang dihasilkan di kebunnya kepada konsumen.

- Usaha pakaian jadi yang menjual hasil produksinya langsung kepada konsumen di tempat penjahitan.

Memang bentuk penjualan seperti ini tidak memerlukan tambahan dana yang akan dipergunakan untuk biaya pengangkutan atau perantara.

Bentuk penjualan ini juga sangat disenangi konsumen, karena harganya biasanya lebih murah dan kualitas bisa dipertanggungjawabkan.

2) Selling at the producer’s retail store

Adalah penjualan yang dilakukan di tempat pengecer. Bentuk penjualan ini biasanya produsen tidak melakukan penjualan langsung kepada konsumen tetapi melalui/dilimpahkan kepada pihak pengecer.

3) Selling door to door

Adalah penjualan yang dilakukan oleh produsen langsung kepada konsumen dengan mengerahkan salesmannya ke rumah-rumah atau ke kantor-kantor konsumen.

4) Selling through mail

Adalah penjualan yang dilakukan perusahaan dengan menggunakan jasa pos.

b. Saluran Distribusi Tidak Langsung

Adalah bentuk saluran distribusi yang menggunakan jasa perantara dan agen untuk menyalurkan barang/jasa kepada para konsumen. Yang dimaksud dengan perantara adalah mereka yang membeli dan menjual barang-barang tersebut dan memilikinya. Mereka bergerak di bidang perdagangan besar dan pengecer, sedangkan yang dimaksud dengan agen adalah orang atau perusahaan yang membeli atau menjual barang untuk perdagangan besar (manufakturer). Agen bertindak mewakili baik penjual maupu pembeli di dalam suatu transaksi. Penghasilannya adalah persentase dari barang yang dijual/dibeli, sedangkan yang dimaksud dengan distributor adalah lembaga yang melaksanakan perdagangan dengan menyediakan jasa-jasa atau fungsi khusus yang berhubungan dengan penjual atau distribusi barang, tetapi mereka tidak mempunyai hak untuk memiliki barang yang diperdagangkan.

Memang banyak sekali cara yang digunakan untuk mendistribusikan barang dan jasa kepada konsumen, sebagaimana diuraikan dalam bentuk saluran distribusi, yaitu saluran distribusi langsung dan tidak langsung, tetapi masih banyak perusahaan yang mengombinasikan beberapa saluran distribusi untuk mencapai segmen pasar yang berbeda. Misalnya pabrik ban dan kertas dapat menyalurkan poduknya secara langsung kepada pemakai (seperti pemakai industri dan pemakai dalam jumlah yang besar), sedangkan untuk pembeli yang membeli dalam jumlah kecil dilayani oleh pedagang besar. ada beberapa alternatif distribusi yang akan digunakan yang didasarkan kepada jenis barang dan segmen pasarnya, yaitu:

1. Saluran distribusi barang konsumsi, ditujukan untuk segmen pasar konsumen.

2. Saluran distribusi barang industri, ditujukan untuk segmen pasar industri.

a. Saluran distribusi untuk barang konsumsi

1) Produsen ---> Konsumen

Bentuk saluran ini adalah bentuk yang paling pendek dan sederhana sebab tanpa menggunakan perantara. Produsen dapat menjual barang yang dihasilkan melalui pos atau langsung mendatangi rumah konsumen.

2) Produsen ---> Pengecer ---> Konsumen

Dalam saluran distribusi ini produsen menginginkan suatu lembaga lain, maksudnya dalam hal ini pengecer yang menyampaikan peroduknya ke konsumen, di mana pengecer

langsung membeli produk tanpa melalui pedagang besar dan menjualnya kembali kepada konsumen.

3) Produsen ---> Pedagang besar ---> Pengecer Konsumen

Jenis saluran distribusi ini dilaksanakan oleh produsen yang tidak ingin menjual secara langsung tetapi menginginkan suatu lembaga guna menyalurkan produknya, sehingga dalam hal ini produsen menjual kepada pedagang besar saja. Kemudian pada pedagang besarlah yang menjual kembali kepada pengecer dan meneruskannya ke tangan konsumen. Jadi di sini produsen hanya berhubungan dengan pedagang besar.

4) Produsen--->Agen--->Pedagang Besar ---> Pengecer --->Konsumen

Jenis saluran distribusi lainnya yang sering dipakai para produsen adalah dengan melibatkan agen di dalamnya. Di sini agen fungsinya adalah sebagai penyalur yang kemudian mengatur system penjualannya kepada saluran pedagang besar selanjutnya

kepada pengecer dan kemudian sampai ke tangan konsumen.

Saluran distribusi ini sering dipergunakan untuk produk yang tahan lama.

5) Produsen ---> Agen ---> Pengecer ---> Konsumen

Dalam saluran distribusi ini produsen memilih agen yang akan dipertemukan produsen untuk menjalankan kegiatan penjualan kepada pengecer dan selanjutnya pengecer menjualnya kepada konsumen. Pada dasarnya saluran distribusi yang dipakai baik itu agen maupun pengecer tujuannya dalah untuk mendapatkan keuntungan dengan sasaran konsumennya. Agen di sini bertugas mempertemukan pembeli dengan penjual. Agen tidak mengambil alih pemilikan dari barang tersebut.

b. Saluran distribusi untuk barang industri

1) Produsen ----> Pemakai Industri

Saluran distribusi barang industri dari produsen ke pemakai industri ini merupakan saluran yang paling pendek dan disebut saluran distribusi langsung. Biasanya distribusi langsung ini dipakai oleh produsen bilamana transaksi penjualan kepada pemakai industri relatif cukup besar dan dalam saluran distribusi ini produsen menjual langsung kepada industri user.

2) Produsen ----> Distributor Industri ----> Pemakai Industri

Produsen barang-barang jenis perlengkapan operasi dan peralatan ekstra kecil dapat menggunakan distributor industri untuk mencapai pasarnya. Produsen lain yang dapat menggunakan distributor insdustri sebagai penyalur, antara lain produsen bahan bangunan. Distributor industri dalam saluran ini usahanya terutama dalam menyalurkan parts yang standarrized dan operating supplies yang dibutuhkan oleh pemakai industri secara continues. Produsen memakai distributor industri adalah dengan tujuan agar barang-barang dengan pasti dan mudah diperoleh langsung oleh pemakai.

Biasanya distributor industri dapat melakukan penjualan yang lebih sempurna dari produsen karena mereka lebih dekat hubungannya dengan para pemakai dalam suatu daerah tertentu. Sering kali distributor industri sangat disegani oleh para pemakai, sehingga pemesanan-pemesanan pemakai tergantung sekali dari distributor industri. Dalam hal ini produsen hanya dapat menjual barangnya melalui distributor industri.

3) Produsen ---> Agen Distributor ----> Industri Pemakai Industri

Saluran distribusi ini dapat dipakai oleh perusahaan dengan pertimbangan antara lain bahwa unit penjualannya terlalu kecil untuk dijual secara langsung. Selain itu, faktor penyimpanan pada penyalur perlu dipertimbangkan pula. Dalam hal ini agen penyimpanan sangat penting peranannya. Produsen-produsen kecil dan industrial goods biasanya lebih mengkonsentrir dalam bidang produksinya dan menyerahkan distribusinya kepada para pedagang perantara. Agen mengusahakan penjualannya, distributor industri mengatur storage, reselling dan shipment selanjutnya.

4) Produsen ---> Agen ----> Pemakai Industri

Biasanya saluran distribusi semacam ini dipakai oleh produsen yang tidak memiliki departemen pemasaran. Juga perusahaan yang ingin memasuki daerah pemasaran baru dan lebih suka menggunakan agen. Produsen tidak ingin membentuk sales force sendiri dan penjualan diserahkan kepada agen, sedangkan kegiatan distribusinya dilakukan oleh produsen. Agen tidak memiliki barang tersebut tapi bertanggung jawab atas pengaturan

penjualan. Shipment dilakukan langsung dari produsen kepada pemilik industri.

Proses Pengiriman Produk yang Dibeli Pelanggan

Proses Pengiriman Produk yang Dibeli Pelanggan

Di dalam transaksi pembelian dan penjualan terdapat kegiatan pemindahan barang dan jasa. Seperti kita ketahui bahwa di dalam transaksi jual beli akan terjadi perpindahan hak milik dari satu tempat ke tempat lainnya. Fungsi pengangkutan ini, akan bertambah penting jika jarak antara produsen dan konsumen semakin jauh. Semakin pentingnya fungsi pengangkutan, semakin tinggi pula biaya-biaya dalam pemesanan barang, Pelaksanaan angkutan mempunyai sasaran untuk dapat memindahkan barang-barang ke tempat tujuan yang diharapkan yaitu menyampaikan barang dengan biaya murah, tepat waktunya, keamanannya terjamin, jumlah barang dan mutunya tetap terjamin. Di dalam menentukan pengangkutan baik yang akan disewa maupun yang akan dibeli (dimiliki) sendiri perlu mempertimbangkan beberapa pertimbangan yang mantap.

Beberapa alternatif di dalam menentukan pengangkutan yaitu:

1. Angkutan kereta api sangat cocok untuk pengangkutan barang-barang berat dalam jarak jauh.

2. Angkutan truk sangat fl eksibel terutama untuk mengangkut barang-barang dalam jumlah yang tidk terlalu banyak dan jaraknya agak dekat.

3. Angkutan air (kapal laut, kapal sungai dan danau) akan lebih tepat untuk pengangkutan barang-barang yang tidak cepat rusak.

4. Angkutan kapal udara, membutuhkan biaya yang mahal, tetapi pengangkutannya lebih cepat.

1. Fungsi Jasa Angkutan

Seperti sudah diterangkan di atas, angkutan itu banyak sekali fungsinya, terutama untuk memperlancar dalam bidang pemasaran barang dan jasa. Pengangkutan dalam arti ekonomi adalah merupakan jasa yang dapat menaikkan arti dan nilai dari suatu barang. Pengangkutan yang dipergunakan dalam perdagangan adalah merupakan kegiatan melakukan pemberian jasa memindahkan barang-barang dari suatu tempat ke tempat lainnya. Pengangkutan adalah merupakan salah satu fungsi yang bergerak dalam pemindahan barang secara fi sik dari produsen ke tangan konsumen yang mengakibatkan adanya ”place utility”.

Dengan adanya pengangkutan berarti akan memberikan kegunaan tempat atau place utility bagi barang-barang, juga dapat menciptakan kegunaan waktu ”time utility”di mana barang-barang itu secara cepat beralih ke tempat lain.

Sangat wajar apabila harga pada suatu daerah yang jauh letaknya dari daerah produsen agak mahal. Tetapi dengan banyaknya armada angkutan perbedaan harga setiap daerah perdagangan dapat diatasi.

2. Memilih Desain Saluran Distribusi yang akan Digunakan

Pemilihan sarana angkutan sangat memerlukan pertimbangan bagi setiap perusahaan, yaitu:

1. Pengangkutan tidak terlepas dari besar kecilnya produk,

2. Biayanya jangan terlampau mahal,

3. Harus sepadan dengan promosi perusahaan,

4. Pengangkutan mana yang paling tepat,

5. Mana yang efisien dan efektif, mempunyai angkutan sendiri atau menyewa,

6. Aspek-aspek apa yang penting untuk perusahaan,

7. Macam sarana angkutan mana yang dapat menunjang kemajuan perusahaan.

Faktor lain yang dapat memengaruhi pertimbangan dalam pemilihan jenis pengangkutan yang akan digunakan di antaranya:

a. Jenis barang (produk ) yang akan dikirim

Jenis barang yang akan dikirimkan sangat perlu diperhatikan, sehingga alat pengangkutan yang dipilih dapat disesuaikan dengan barang (produk) yang akan dikirimkan, apakah barang yang akan dikirimkan itu termasuk:

1) barang yang mudah rusak, sehingga perlu penanganan khusus dan perlu alat pengangkut yang khusus dan aman, misalnya; susu, daging, buah-buahan, obat-obatan, dan sebagainya, yang tentu barang-barang semacam ini harus cepat sampai ke tujuan.

2) barang yang tidak mudah rusak dan tahan lama, seperti peralatan kantor, mesin-mesin, dan sebagainya.

3) barang barang khusus yang perlu diprioritaskan cara pengirimannya, misalnya; pengiriman zat zat kimia yang perlu penanganannya harus hati-hati.

b. Banyaknya barang yang akan dikirimkan

Banyaknya barang yang akan dikirim juga menjadi salah satu factor yang perlu dipertimbangkan karena akan mempengaruhi cara pengepakan, pemuatan dan menentukan jenis kendaraan yang akan digunakan, misalnya kalau barang itu sedikit maka dapat dikirim melalui jasa pos atau titipan kilat atau memakai kendaraan kecil lainnya.

c. Tujuan pengiriman barang

Tujuan pengiriman barang juga merupakan faktor yang penting dalam menentukan pilihan jenis transportasi,di sini harus diperhatikan jarak yang harus ditempuh.

d. Biaya/ongkos pengiriman barang

Untuk mengetahui ongkos pengiriman barang sangat berkaitan dengan jenis barang, berat barang dan tujuannya, di sini perlu dilihat mana yang lebih ekonomis (murah) dalam pengiriman barang dengan mempertimbangkan keamanan dan kecepatan barang tersebut agar sampai tepat ke tujuan, ongkos angkut biasanya dihitung berdasarkan berat dikalikan tarif jarak per kilometer, atau dapat juga memakai sistem borongan.

3. Faktor-Faktor dalam Pemilihan Angkutan

Untuk memindahkan barang-barang yang volumenya besar seperti mesin-mesin industri, jasa angkutan yang paling tepat digunakan adalah kapal laut. Seperti kita ketahui, jenis angkutan yang diperlukan dalam bisnis di antaranya adalah bis, kapal laut, kereta api, truk, kapal terbang dan lain sebagainya. Untuk memilih angkutan tersebut ada faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan, di antaranya:

1. Faktor kecepatan

Kecepatan pengangkutan pada umumnya merupakan pilihan utama di dalam bisnis.

2. Faktor keamanan

Barang-barang yang diangkut ke tempat tujuan harus benar-benar terjamin segi keamanannya.

3. Faktor ketepatan waktu

Barang-barang yang diangkut harus tepat waktunya sesuai dengan pesanan para konsumen/pembeli/langganan.

4. Faktor biaya dan tarif

Biaya atau tarif angkutan merupakan unsur pertimbangan yang dihadapi perusahaan atau konsumen/pembeli/langganan. Murah tidaknya biaya angkutan harus memerhatikan jauh tidaknya tempat yang akan dituju, sifat dan jenis barang, jenis angkutannya, rusak tidaknya jalan yang akan dituju, dan lain sebagainya.

Dalam hal penyampaian produk terutama barang, kegiatan distribusi menggunakan mode transportasi di antaranya:

a. Truk, kelebihan menggunakan truk adalah pada fl eksibilitas, sehingga perusahaan yang telah menerapkan konsep JIT (Just In Time) makin menerapkan penggunaan moda transportasi ini untuk urusan distribusi.

b. Kereta api, kelebihannya adalah karena moda transportasi ini mempunyai jalan sendiri sehingga waktu atau jadwalnya lebih tepat daripada truk, akan tetapi dengan tumbuhnya konsep JIT, maka kereta api telah dianggap merugikan karena proses produksi dalam ukuran batch kecil mengharuskan pengiriman yang berkala dan dalam jumlah sedikit.

c. Pesawat udara, dengan perkembangan pergerakan nasional dan internasional maka moda transportasi ini dapat diandalkan dan cepat. Didukung pula bermunculannya perusahaan pengangkutan seperti Fedex, UPS, dan Purolator.

d. Kapal laut, merupakan salah satu sarana transportasi tertua di dunia. Sistem distribusi dengan menggunakan moda transportasi ini penting apabila biaya pengangkutan lebih penting daripada kecepatan.

e. Pipa, merupakan bentuk transportasi yang penting untuk cairan seperti minyak maupun gas serta bahan kimia lainnya.

a. Ongkos angkut

Penegasan kembali ongkos angkut kepada pelanggan sangat penting, karena menyangkut dengan risiko yang harus ditanggung bersama sesuai kesepakatan.

Penyerahan ongkos angkut barang dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.

1). Loko gudang, yaitu penyerahan barang dilakukan di gudang penjual, barang diserahkan apa adanya, ongkos-ongkos menimbang, membungkus dan membawa dari gudang sampai ke tempat pelanggan.

2). Frangko stasiun, yaitu semua ongkos dari gudang penjual sampai barang berada di stasiun kota penjual tanggungan penjual, dan dari stasiun ke tempat pelanggan ditanggung oleh pelanggan.

3). Fas (free along side), yaitu penjual menanggung semua ongkos mulai dari gudang sampai barang berada di sisi kapal pelabuhan penjual, dari sana sampai ke tempat pelanggan ditanggung oleh pelanggan.

4). Fob (free on bord), yaitu penjual menanggung semua ongkos sampai barang berada di atas kapal pelabuhan penjual, setelah kapal berangkat sampai ke tempat pelanggan ongkos menjadi tanggungan pelanggan,

5). Loco enterpo (loco gudang pelanggan), yaitu penjual menanggung semua ongkos sampai berada dalam gudang di pelabuhan pelanggan.

6). Franko pelanggan, yaitu penjual menanggung segala ongkos sampai barang di tempat pelanggan.

Tata Cara Pengisian Format Penjualan

Tata Cara Pengisian Format Penjualan

Format penjualan berupa nota yang merupakan bukti pembelian barang, nota akan diisi oleh petugas penjualan apabila seorang konsumen telah memutuskan pembelian sebelum konsumen melakukan pembelian ke kassa maka seorang pramuniaga harus mengisi nota berdasarkan jumlah pembelian barang adapun data data yang harus diisi yaitu:

a. Tanggal transaksi,

b. Nama dan alamat konsumen,

c. Nomor nota,

d. Nomor urut,

e. Jumlah barang,

f. Nama barang,

g. Harga satuan,

h. Jumlah harga,

i. Nama jelas petugas pembelian.

Data data tersebut harus diisi secara akurat dan teliti, tujuannya agar tidak terjadi kekeliruan dan kesalahan, unit-unit organisasi yang terlibat dalam aktivitas bagian gudang, dan bagian pembungkus. Kegiatan masing-masing bagian sebagai berikut.

• Bagian Penjualan (Pramuniaga)

a) Menerima order dari pembeli yang datang langsung ke tempat penjual (toko).

b) Mengisi formulir faktur (nota) penjualan tunai rangkap 3 (tiga):

Lembar 1 dirserahkan kepada pembeli untuk dibawa ke kassa saat membayar.

Lembar 2 diserahkan kepada bagian gudang untuk kepentingan penyediaan barang yang akan diserahkan kepada pembeli.

Lembar 3 diarsipkan di bagian order penjualan menurut nomor urut faktur.

• Bagian Kassa.

a) Menerima faktur penjualan tunai lembar 1 dari pembeli.

b) Menerima uang dari pembeli untuk pembayaran faktur yang bersangkutan.

c) Menyerahkan faktur yang telah dicap lunas beserta pita kas register (struk) kepada pembeli untuk kepentingan pengambilan barang di bagian pembungkus (penyerahan) barang.

• Bagian Gudang

a) Menerima faktur penjualan tunai lembar 2 dari bagian order penjualan.

b) Menyiapkan barang sesuai dengan yang tercantum dalam faktur.

c) Mencatat kuantitas barang yang tercantum dalam faktur dalam kartu gudang.

d) Menyerahkan faktur lembar 2 dan barang yang bersangkutan kepada bagian pembungkus.

• Bagian Pembungkus (Penyerahan) Barang

a) Menerima barang dan faktur penjualan tunai lembar 2 dari bagian gudang.

b) Menerima faktur penjualan tunai lembar 1 yang telah dicap lunas dan pita kas register dari bagian kassa melalui pembeli.

c) Meneliti kesamaan data faktur lembar 1dengan pita kas register dan faktur lembar 2 serta barang yang bersangkutan.

d) Menyerahkan barang kepada pembeli beserta faktur penjualan tunai lembar 2 sebagai slip pembungkus, setelah data dokumen yang terkait cocok.

e) Menyerahkan faktur penjualan tunai lembar 1 kepada bagian jurnal dan buku besar (bagian akuntansi).

􀁔 Tempat pembayaran

Tempat pembayaran biasanya dilakukan di tempat penyerahan barang,

terkecuali jika ada ketentuan lain dalam kesepakatan, mengenai waktu

tempat pembayaran dapat dipilih dari salah satu ketentuan-ketentuan di

bawah ini:

a. Dibayar dimuka (prepaid) artinya pembeli membayar lebih dulu

sebelum barang yang dibeli diterimanya, dalam hal ini berarti pembeli

memberikan kredit kepada penjual, kredit ini disebut kredit pembeli.

b. Rembours (cash on delivery/c.o.d) artinya barang yang dibeli hanya

akan dikirimkan dan diterima pembeli jika barang itu sudah dibayar.

c. Tunai/kontan (cash) artinya barang yang dibeli harus dibayar secara

tunai

d. Kredit (credit) artinya pembayaran untuk barang yang dibeli dapat

dilakukan beberapa waktu setelah barang itu diterima, dalam hal ini

berarti pembeli diberikan kredit oleh penjual, kredit ini disebut sebagai

kredit penjual (leverancier credit/seller credit)

e. Pembayaran cicilan/angsuran (installment) artinya barang yang dibeli

dapat dibayar secara mengangsur/cicilan

Tata Cara Pengisian Bukti-bukti Transaksi

Tata Cara Pengisian Bukti-bukti Transaksi

Pada perusahaan dagang bukti bukti perhitungan harga produk sebagai bukti

utama adalah yang merupakan suatu rician pembelian barang dagangan, yang

menerangkan tentang produk yang dibeli. Faktur tersebut berisi tentang keteranganketerangan

diantaranya sebagai berikut:

a) jumlah barang;

b) kode barang;

c) nama barang;

d) isi;

e) harga satuan;

f) jumlah harga;

g) discount;

h) total harga yang dibayar.

Di samping faktur perhitungan harga produk yang lain adalah berupa nota

penjualan, daftar harga, kwitansi dan dokumen-dokumen lain yang berkaitan

dengan perhitungan harga produk. Dokumen-dokumen pembelian mempunyai arti

sangat penting bagi seorang pengusaha yaitu sebagai dasar pertimbangan untuk

menentukan harga jual sehingga dengan demikian seorang pengusaha akan lebih

mudah dalam pengambilan keputusan.

Pengisian dokumen tersebut dilakukan oleh supplier berdasarkan pesanan

pembelian (purchase Order). Pengisian format faktur atau nota penjualan

disesuaikan dengan PO yang telah ditetapkan pihak pembeli, dengan maksud agar

Proses Penyerahan Produk

Proses Penyerahan Produk

Setelah mempersiapkan barang yang akan dikirim kepada pelanggan maka selanjutnya adalah melakukan penyerahan produk kepada pelanggan,tetapi sebelumnya Penjual haruslah melakukan perhitungan harga, baik dengan menggunakan alat hitung manual maupun alat hitung elektronik, total harga hasil perhitungan harus diberitahukan atau harus sepengetahuan pelanggan sebagai pihak pembeli.

A. Peralatan yang Digunakan dalam Menghitung Harga

Di dalam dunia perdagangan penggunaan alat hitung sangat diperlukan di toko-toko yang besar atau swalayan, untuk memudahkan penyelesaian transaksi jual beli digunakan mesin yang dapat digunakan oleh kasir untuk mengetahui dan menghitung jenis dan jumlah barang yang telah dibeli oleh pelanggan, jenis alat pembayaran, pemberian discount sampai dengan membaca laporan penjualan baik perkasir maupun untuk periode tertentu. Mesin tersebut disebut Kalkulator dan Mesin Cash Register.

1. Kalkulasi Total harga

Harga adalah nilai suatu barang atau jasa yang dinyatakan dalam bentuk uang. Dari defi nisi tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa harga adalah patokan nilai barang atau jasa. harga mempunyai fungsi sebagai berikut.

a Sebagai pengukur nilai kerja

b Pengukur daya beli masyarakat

c Pengukur tingkat kemakmuran

d Gengsi (prestise)

Kalkulasi total harga merupakan dasar untuk menentukan harga produk ditambah presentase laba yang diharapkan oleh pengusaha.

􀁔 Tujuan Harga

Pada umumnya para penjual (produsen) memiliki beberapa tujuan dalam penetapan harga atas barang atau jasa yang dihasilkan antara lain sebagai berikut.

a. Mendapatkan laba maksimal.

b. Mendapatkan pengembalian investasi yang ditargetkan atau pengembalian pada laba bersih.

c. Mencegah atau mengurangi persaingan.

d. Mempertahankan atau memperbaiki market share.

2. Faktor-faktor Penentu Penetapan Harga

Faktor penentu penetapan harga ada 2 (dua) yaitu:

a. Pertimbangan Subjektif

b. Pertimbangan Objektif

a. Pertimbangan Subjektif

Faktor penentu harga subjektif tidak mempunyai standar pasti dalam penentuannya. Penentuan harga subjektif terjadi karena pandangan pribadi penjual terhadap barang yang dijualnya. Faktor pertimbangan harga subjektif banyak digunkan untuk barang yang mempunyai nilai seni dan sejarah.

Harga produk sejenis, biaya produksi, dan barang substitusi tidak memengaruhi penetapan harga. Harga terjadi karena pertimbangan pribadi penjual dan pembeli. Contoh, harga gitar peninggalan Elvis Presley akan ratusan, ribuan bahkan mungkin jutaan kali dari harga gitar sejenis, walaupun mempunyai bentuk, warna, dan kualitas sama.

b. Pertimbangan Objektif

Pertimbangan objektif adalah suatu faktor penetapan harga yang didasarkan oleh faktor-faktor yang memengaruhinya dan berlaku untuk sebagian besar produk dan di mana produk tersebut dijual. Pertimbangan objektif banyak digunakan untuk produk yang diproduksi secara massal (pabrikasi) dan dibuat terus-menerus. Pertimbangan ditentukan oleh pertimbangan dua faktor, yaitu:

1. faktor intern

2. faktor ekstern.

1) Faktor Intern

Faktor intern adalah faktor dari dalam kegiatan usaha yang memengaruhi pembentukan harga, pada faktor ini penjual dapat menentukan harga dengan berbagai akibat. Bila harga mahal, keuntungan akan besar tetapi ada kemungkinan tidak laku, sementara jika harga murah, keuntungan kecil tetapi ada kemungkinan laku. Faktor intern yang memengaruhi penetapan harga di antaranya:

ˉ Harga pokok penjualan

Harga pokok penjualan adalah akumulasi atau penggabungan biaya-biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan suatu produk. Harga pokok penjualan diperoleh dengan menambahkan biaya produksi, biaya penjualan, biaya tenaga kerja dan sebagainya untuk kegiatan usaha industri, sedangkan untuk kegiatan usaha dagang harga pokok penjualan terdiri dari harga beli, biaya tenaga kerja, biaya pengangkutan dan sejenisnya.

- Jangka waktu perputaran modal

Jangka waktu perputaran modal erat kaitannya dengan kemampuan kegiatan usaha beroperasi dan asal sumber dana. Bila modal diperoleh dari pinjaman, pengusaha harus memperhitungkan beban biaya bunga sebagai salah satu komponen yang harus dihitung. Penetapan harga rendah akan mengakibatkan jangka waktu perputaran modal menjadi cepat, karena daya beli masyarakat naik. Tetapi perusahaan harus berhati-hati menetapkan harga, karena harga yang terlalu murah kadangkala akan menimbulkan keraguan pada konsumen.

2) Faktor Ekstern

Faktor ekstern adalah kondisi-kondisi di luar kegiatan usaha

yang memengaruhi penetapan harga. Berbeda faktor intern, faktor

ekstern tidak dapat dikendalikan oleh pengusaha. Pengelola usaha

harus dapat mempertimbangkan faktor ekstern dengan jitu agar dapat

memenangkan persaingan. faktor ekstern terdiri dari dua kelompok,

yaitu:

􀁔 faktor ekstern yang bersifat umum;

􀁔 faktor ekstern yang bersifat khusus;

1) Faktor ekstern yang bersifat umum

Faktor ekstern yang bersifat umum adalah faktor di luar

kegiatan usaha yang memengaruhi penetapan harga dan berlaku

umum untuk kondisi penjualan. Faktor ekstern yang bersifat umum

dapat berupa:

• Harga pokok sejenis

Harga pokok sejenis sangat memengaruhi harga produk

terutama untuk produk baru, kecuali produk yang sama sekali

baru belum ada di pasar sebelumnya. Jika harga produk

baru lebih mahal sementara kualitas belum diketahui, hampir

dipastikan akan tidak laku. Harga produk baru seharusnya

lebih rendah, atau paling tidak sama dengan ukuran dan mutu

lebih baik.

• Harga produk substitusi (pengganti)

Yang dimaksud produk pengganti adalah produk yang

mempunyai kegunaan sama, tetapi kualitas lebih rendah.

contoh, kompor gas dan kompor minyak tanah. Jika produk

pengganti mempunyai harga lebih rendah, sementara harga

tidak jauh berbeda, maka konsumen akan pindah membeli

barang substitusi dengan alasan penghematan.

• Daya beli masyarakat

Daya beli masyarakat merupakan faktor penting penentu

harga. Permintaan hanya akan ada jika didukung oleh keinginan

dan daya beli. Toko pakaian di pusat kota menjual jenis pakaian

lebih mahal daripada di daerah pinggiran. Pertimbangan hal

tersebut adalah karena daya beli mereka berbeda.

• Peraturan Pemerintah

Peraturan Pemerintah dalam yang memengaruhi

penetapan harga adalah:

- Penetapan harga maksimum adalah peraturan yang

mengatur harga maksimum produk tertentu yang boleh

dijual oleh penjual, contoh penetapan harga maksimum

obat.

- Penetapan harga minimum, adalah peraturan yang

mengatur harga minimum yang boleh dibeli oleh pembeli

untuk membeli produk tertentu. Contoh, penetapan harga

minimum gabah.

2). Faktor ekstern yang bersifat khusus

Faktor ekstern yang bersifat khusus hanya memengaruhi

penetapan harga dalam kondisi tertentu saja. Kondisi tersebut

berhubungan dengan kondisi alam atau keinginan pribadi pembeli.

Jika dipandang menguntungkan, masih dapat dilakukan, dan

tidak melanggar peraturan pemerintah, maka kegiatan usaha

harus dapat memenuhinya, faktor-faktor ekstern yang dapat

memengaruhi penetapan harga di antaranya:

- Letak geografi s

Semakin jauh letak konsumen akan menyebabkan

semakin mahalnya harga penjualan. Hal itu disebabkan

oleh biaya distribusi yang semakin tinggi. Walaupun dengan

berbagai cara letak geografi s dapat dibuat tidak memengaruhi

harga, tetapi secara umum akan menimbulkan kenaikan.

Peranan harga akan terasa pada masa-masa infl asi dan resesi. Begitu

pula naik turunnya harga produk, dapat memengaruhi kepercayaan konsumen,

daya beli konsumen, dan perilakunya.

3. Macam-Macam Harga

Setiap perusahaan pada umumnya sudah mengenal macam-macam harga,

di antaranya:

a. Harga subjektif, adalah harga taksiran pembeli dan penjual terhadap barang

yang akan dibeli atau dijual.

b. Harga objektif, adalah harga yang disetujui atau disepakati kedua belah

pihak antara pembeli dan penjual.

c. Harga pokok, adalah nilai uang dari barang-barang yang diberikan pada

produksi dan langsung berhubungan dengan hasil barang.

d. Harga jual, adalah harga pokok ditambah laba yang diharapkannya.

e. Harga pemerintah, adalah yang ditetapkan oleh pemerintah. Misalnya

harga dasar padi, beras, gula, terigu, semen dan sebagainya.

f. Harga bebas, adalah harga yang terdapat di pasaran antara penjual dengan

penjual yang diakibatkan adanya persaingan.

g. Harga dumping, adalah harga yang ditentukan penjual, umpamanya harga

ekspor penjual di pasaran luar negeri untuk merebut pasaran international

dan menjual dengan harga yang lebih mahal di pasaran dalam negeri.

h. Harga gasal (Odd price), adalah harga yang angkanya tidak bulat, misalnya

Rp9.999,00. cara ini maksudnya untuk memengaruhi pandangan konsumen

atau pembeli bahwa harga produk itu lebih murah.

i. Harga daftar (List price), adalah harga yang diberitahukan terlebih dahulu.

Dari harga produk ini biasanya pembeli akan memperoleh potongan.

j. Harga neto (Net price), adalah harga yang harus dibayar oleh pembeli.

Dengan perkataan lain harga neto adalah harga bersih.

k. Harga zone (Zone price), adalah harga yang sama untuk suatu daerah

atau zone geografi s tertentu. Contohnya harga 1 potong kemeja batik di

Jakarta Rp50.000,00, sedangkan harga di Bogor tetap Rp50.000,00 hanya

ditambah ongkos transportasi Jakarta-Bogor.

l. Harga titik dasar (basing point price), adalah harga didasarkan atas titik

lokasi tertentu. Misalnya basis harga sebuah produk di Jakarta Rp25.000.00

per unit, maka harga basis di Bogor tetap Rp25.000,00 plus biaya transport

Jakarta-Bogor.

m. Harga stempel pos (postage stamps delivered price), adalah harga yang

sama untuk semua daerah pasarannya.

n. Harga pabrik (factory price), adalah harga pabrik yang harus dibayar oleh

pembeli, sedangkan transportasinya dari pabrik harus ditanggung oleh

pembeli. Dapat juga penjual menyerahkan produknya sampai di atas kapal

atau alat angkut lainnya yang disediakan pembeli. Harga pabrik disebut

juga f.o.b factory atau f.o.b mill.

o. Harga f.a.s (free alongside), adalah biaya angkutan ditanggung penjual

sampai kapal merapat di pelabuhan tujuan. Pembongkaran produk

ditanggung oleh pembeli.

p. Harga c.i.f (Cost insurance and freight), adalah harga barang yang di ekspor

sudah termasuk biaya asuransi, biaya pengiriman sampai diserahkannya

barang tersebut kepada pembeli.

4. Macam-Macam Penetapan Harga

Penetapan harga produk ada beberapa macam, di antarnya adalah sebagai

berikut.

a. Penetapan Harga Fleksibel

Kunci utama dalam penetapan harga fl eksibel adalah kelenturan atas

kesediaan untuk memotong harga demi mempertahankan bagian pasar.

Kelenturan dalam penetapan harga produk, misalnya adanya kebijakan

untuk tidak menerapkan adanya ada tambahan harga atau biaya.

b. Penetapan Harga Diferensial (Differential Pricing)

Penetapan secara diferensial adalah perhitungan harga pokok untuk

sejenis produk yang diperhitungkannya atas dasar biaya-biaya yang

berbeda-beda, sehingga terjadi beberapa harga pokok yang besarnya

berbeda satu sama lainnya. Penetapan harga diferensial pada umumnya

menekankan pada dasar pertimbangan pada permintaan konsumen.

c. Penetapan Harga Mark-up

Penetapan harga secara mark up adalah dengan menetapkan harga jual

dilakukan dengan cara menambahkan suatu persentase tertentu dari total

biaya variable atau harga beli dari seorang pedagang (supermarket).

d. Penetapan Harga Cost plus (Cost plus pricing)

Penetapan harga cost plus yaitu penetapan harga jual dengan cara

menambahkan persentase tertentu dari total biaya.

e. Penetapan Harga Sasaran (target pricing)

Penetapan harga sasaran, harga jual produk dapat memberikan

tingkat keuntungan tertentu yang dianggap wajar. Penetapan harga ini,

akan memberikan target keuntungan pada suatu tingkat total biaya dengan

suatu volume produksi standar yang diperkirakan.

f. Penetapan Harga Rata-rata (going rate pricing)

Penetapan harga ini, dengan alasan perusahaan mengalami kesukaran

dalam mengukur biaya, dan kesulitan untuk mengetahui reaksi dari para

pembeli dan saingan. Akhirnya daripada mengganggu keseimbangan harga

di pasar lebih baik mengikuti harga yang berlaku di pasar.

g. Penetapan Harga Tender (sealed bid pricing)

Dalam penetapan harga ini, harga penawaran diajukan dalam

sampul yang tertutup, sedangkan pembeli dapat memilih penjual yang

dianggapnya mempunyai harga yang paling rendah dengan spesifi kasi

yang diharapkannya.

h. Penetapan Harga Break-even (Break Even pricing)

Dalam penetapan harga break even, perusahaan mengetahui

tentang bagaimana satuan produk itu dijual pada satuan tertentu untuk

mengembalikan dana yang tertanam dalam produk tersebut.

i. Penetapan Harga Rate of Return (Rate of Return pricing)

Kebijaksanaan penetapan harga ini untuk mencapai tingkatan

pengembalian investasi dan merupakan kebijaksanaan yang banyak

dipakai oleh perusahaan-perusahaan besar.

j. Penetapan Harga oleh Pedagang

Penetapan harga ini, ditetapkan oleh para pedagang dengan cara

menambahkan suatu selisih (margin) harga tertentu di atas harga

pembelian yang dibayarnya kepada penjual/produsen. Jumlah margin

(selisih) harga pembelian akan mereka terima dari berbagai macam barang

diharapkan dapat menutup seluruh biaya operasional, serta mengharapkan

ada laba.

k. Penetapan Harga oleh Produsen

Cara penetapan harga ini, yaitu dengan biaya pengadaan ditambah

margin oleh para produsen. Produsen merencanakan jumlah barang

yang akan diproduksi dan yang akan dipasarkan selama masa tertentu,

serta menghitung jumlah biaya bahan baku, pembantu dan biaya

pembuatannya.

l. Penetapan Harga biaya variabel

Penetapan harga biaya variabel didasarkan pada suatu ide bahwa

biaya total tidak selalu harus ditutup dalam menjalankan kegiatan bisnis

yang menguntungkan. Penetapan biaya variabel ini dapat dipakai untuk

menentukan dasar harga minimum.

5. Kombinasi Harga (Price Mix)

Setiap perusahaan harus dapat menetapkan kombinasi harga (price

mix) dalam rangka memajukan promosi penjualan produknya. Kombinasi

harga, selalu melibatkan daftar harga, potongan tambahan barang, jangka

pembayarannya, dan kredit yang diberikan serta pemberian pelayanannya.

Selain itu kebijaksanaan perusahaan yang berkaitan dengan potongan dan

kelonggaran adalah hasil pengurangan dari harga dasar atau harga tercatat

atau harga terdaftar (listprice).

Daya tarik penjualan produk adalah merupakan elemen pokok dari

penawaran yang akan dikomunikasikan oleh penjual. Maka dari itu salah

satu daya tarik yang akan diberikan penjual kepada pembeli adalah dengan

melaksanakan kombinasi harga (price mix).

Pengurangan dapat berbentuk harga yang dipotong atau konsesi lain

seperti pemberian sejumlah barang gratis.

Potongan harga (discount) sering digunakan perusahaan untuk

meningkatkan jumlah penjualan dan hasil penerimaan penjualan serta share

pasar perusahaan. Perusahaan dapat memberikan potongan harga kepada

pembeli yang membeli dalam jumlah besar(quantity discount) atau kepada

pembeli yang membayar dengan tunai (cash discount).

Begitu pula syarat-syarat pembayaran adalah merupakan strategi

harga karena termasuk pertimbangan tingkat pengorbanan yang harus

dipertimbangkan langganan atau pembeli akan mempertimbangkan salah

satu faktor yang paling penting yaitu penjual atau produsen mana yang dapat

memberikan pembayarannya yang paling lunak.

Besarnya potongan yang diberikan produsen akan bertingkat sesuai dengan

tingkat peranan pedagang dalam mata rantai penyaluran barang. Secara lebih

rinci kombinasi harga (price mix) yang dijalankan perusahaan itu adalah sebagai

berikut.

􀀨 Potongan harga, daftar harga dan tambahan harga

Potongan harga adalah pengurangan dari apa yang tercantum di dalam

daftar harga, serta diberikan kepada yang bersedia melakukan sesuatu

pembelian produk yang telah disepakati oleh penjual. Pemberian potongan

harga dapat berwujud uang, atau tambahan barang. Sedangkan yang

dimaksud dengan daftar harga adalah suatu daftar yang berisikan/memuat

harga barang-barang untuk kepentingan penjual dan pembeli.

Tambahan barang yang diberikan penjual terhadap pembeli ada

kemungkinan barang-barang tersebut aus, susut, rusak, adapun potonganpotongan

harga yang diberikan penjual kepada pembeli, adalah sebagai

berikut.

1) Potongan fungsional (trade or functional discount)

Potongan fungsional biasanya diberikan kepada para penyalur.

2) Rabat

Rabat adalah potongan yang diberikan kepada pembeli dari penjual

karena membeli barang dalam jumlah yang banyak. Potongan rabat

disebut juga potongan kuantitas (quantity discount).

3) Kontan (cash discount)

Potongan ini, diberikan oleh penjual kepada pembeli karena

membeli barang secara tunai atau membeli barang dalam jangka

pendek.

4) Potongan rafaksi adalah potongan khusus yang diberikan penjual

kepada pembeli karena adanya perubahan perhitungan berat misalnya;

akibat kerusakan yang terjadi selama barang dalam pengangkutan.

5) Potongan order dini (early order discount)

Potongan ini adalah potongan yang diberikan kepada pembeli

karena order (pesanan) masih dini. Misalnya 3 bulan sebelum Idul Fitri

sudah pesan barangnya.

6) Potongan kelompok (group discount)

Potongan kelompok adalah potongan yang diberikan kepada

pembeli yang dihimpun dalam kelompok (group) atau organisasi.

7) Tarra

Tarra adalah potongan timbangan pembungkus barang yang

diberikan penjual kepada pembeli, karena barang yang diserahkan

ternyata barangnya masih terbungkus.

Bentuk potongan lainnya adalah:

1) Potongan kuantitas

2) Potongan dagang

3) Potongan tunai

4) Potongan musiman

5) Kelonggaran promosi

6) Kelonggaran komisi

7) Kelonggaran barang

Untuk mengetahui secara jelas arti dan perbedaan dari masing-masing

bentuk potongan di atas dapat diuraikan secara garis besar sebagai

berikut:

1. Potongan kuantitas (Quantity Discount)

Potongan kuantias adalah potongan dari harga yang tercatat

yang ditawarkan penjual agar konsumen membeli dalam jumlah yang

lebih besar dari biasanya atau bersedia memusatkan pembeliannya

pada penjual yang sama. Potongan kuantitas dapat dilakukan dengan

menggunakan dua macam cara yaitu:

a. Potongan kuantitas nonkumulatif yaitu potongan yang didasarkan

pada jumlah setiap pesanan untuk satu atau beberapa produk,

misalnya; pembeli dapat membeli satu unit barang dengan harga

Rp1.000,00 tetapi kalau membeli 3 unit yang bersangkutan

hanya cukup membayar Rp2.500,00 saja. Potongan kuantitas

nonkumulatif ini dapat mendorong pembeli untuk memesan/

membeli dalam jumlah yang lebih besar.

b. Potongan kuantitas kumulatif adalah potongan yang didasarkan

pada volume total yang dibeli selama satu periode tertentu. Bagi

penjual cara seperti ini dapat mengikat pembeli untuk membeli

berkali-kali pada penjual yang sama.

Tipe potongan ini terutama berguna bagi penjualan produk

yang tidak tahan lama, karena konsumen dirangsang untuk

membeli persediaan/stok baru secara lebih sering sehingga produk

tidak akan basi/layu.

2. Potongan Dagang

Potongan dagang sering juga disebut potongan fungsional adalah

potongan dari harga tercatat (daftar harga) yang ditawarkan kepada

pembeli yang diharapkan mampu memiliki fungsi pemasaran (yang

ikut memasarkan barangnya). Contoh; produsen dapat memberi harga

eceran produsen sebesar Rp400,00 dengan potongan dagang sebesar

40% dan 10% yang berarti potongan diberikan kepada pengecer 40%

dan kepada grosir 10% di mana pengecer harus membayar Rp240,00

(Rp400 – 40%), sedangkan grosir membangun kepada produsen

hanya sebesar Rp 216 (Rp240 – 10%). perlu dicatat bahwa potongan

40% dan 10% bukan berarti bahwa jumlah potongan menjadi 50% dari

harga tercatat.

3. Potongan Tunai/Kontan

Adalah potongan yang diberikan kepada pembeli karena membayar

kontan/tunai dalam jadwal pembayaran yang telah ditetapkan

sebelumnya. Potongan kontan pada dasarnya dihitung dari nilai

sisa setelah dikurangi potongan kuantitas dan potongan dagang

dari harga dasar. Tujuan dari memberikan potongan kontan adalah

untuk mendapatkan dana tunai sebanyak mungkin sehingga dapat

mengumpulkan modal kerja dengan cepat dan relatif murah.

Dalam praktik di tanah air dewasa ini sering dikenal dua macam

pembayaran kontan, yaitu:

- Kontan keras yakni pembayaran kontan yaitu uang tunai pada saat

penyerahan barang.

- Pembayaran kontan adalah pembayaran selang beberapa

waktu setelah barang diserahkan misalnya dua atau tiga minggu

kemudian.

Sebagai contoh yang banyak dilakukan dalam praktik khususnya

untuk pembayaran kontan adalah pada saat barang diserahkan,

pembeli memberikan cek mundur, yakni cek yang baru dapat uangkan

ke bank beberapa hari atau minggu dan bahkan belum setelah

penyerahan cek.

Mengingat bahwa cek mundur biasanya dapat dipergunakan

sebagai alat pembayaran transaksi dagang terhadap para relasi

dagang, maka cek mundur dalam dunia perdagangan dianggap

sebagai dana tunai. Oleh karena uang tunai bersifat lebih likuid

dibandingkan dengan cek mundur, maka potongan keras biasanya

lebih besar daripada potongan kontan.

4. Potongan Musiman

Potongan musiman adalah suatu pengurangan harga yang

diberikan kepada pembeli yang membeli barang/jasa di kala musim sepi.

Potongan musiman memungkinkan penjual dapat mempertahankan

produksi yang lebih mantap selama satu tahun. Contoh; pabrik payung

akan menawarkan potongan musiman kepada para pengecer pada

musim panas untuk mendorong pesanan yang lebih awal.

5. Potongan Fungsional

Potongan fungsional sering juga dinamakan potongan dagang

atau trade discount oleh produsen kepada anggota saluran distribusi

yang melakukan fungsi-fungsi tertentu seperti penjualan ataupun

penyimpanan. Produsen pada dasarnya dapat menawarkan suatu

potongan fungsional yang berbeda-beda kepada berbagai saluran

distribusi karena perbedaan pelayanan yang dilakukan.

6. Penetapan Harga Terobosan

Dalam kondisi-kondisi tertentu, perusahaan akan menetapkan harga

sementara untuk produknya di bawah daftar harga dan bahkan kadang-kadang

di bawah biayanya, misalnya: Penetapan harga promosi, yaitu :

• Harga kerugian-Pelopor; dalam hal ini pasar swalayan dan toko serba ada

menurunkan harga merek-merek terkenal untuk memancing perdagangan

yang lebih banyak.

• Harga Peristiwa Khusus; Penjual memberikan harga khusus pada musimmusim

tertentu untuk menarik lebih banyak pelanggan.

• Rabat Tunai: Pelanggan ditawarkan rabat tunai untuk mendorong mereka

agar membeli produk produsen dalam periode waktu tertentu.

• Pembiayaan bunga rendah:sebagai ganti menurunkan harga, perusahaan

dapat menawarkan pelanggannya pembiayaan berbunga rendah

• Perjanjian Garansi dan Pelayanan: Perusahaan dapat meningkatkan

penjualannya dengan menambahkan penawaran garansi gratis atau

perjanjian pelayanan.

• Diskon Psikologis : Ini melibatkan pemberian harga tinggi tipuan atas suatu

produk dan kemudian menawarkannya dengan penurunan harga besar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Top WordPress Themes