Minggu, 04 April 2010

Teknik Tata Cahaya Display

Teknik Tata Cahaya Display

Di era 1980-an dan 1990-an, desain lighting utamanya lebih fokus pada

pencahayaan merchandise (barang yang ditawarkan). Eksistensi produk di suatu

toko ditonjolkan melalui penerapan high level lighting tepat menyorot produk yang

dipasajek sekitar yang dibuat redup, menegaskan fi gur manekin sebagai aksen.

Sejalan dengan waktu dan perubahan gaya berbelanja, kini pencahayaan

merchandise dituntut berkombinasi dengan pencahayaan ruang (space illumination).

Bukan sekadar keseimbangan produk dan ruang, lighting terutama ditujukan untuk

penciptaan citra ruang. Space illumination tematik untuk memancarkan ambience

tertentu pun didesain agar pencahayaan mengejutkan, menggoda, menstimulasi

emosi.

Penerangan ruang (general lighting) toko hendaknya hadir dalam kuat cahaya

tinggi. Citra visual didapat dari tata cahaya pada elemen arsitektur misal, partisi,

drop off, dan back drop dengan color rendering yang tepat. Elemen-elemen itu

sendiri mampu meningkatkan kontras bidang-bidang dalam ruang sehingga ruang

tak tampil ”kosong” dan datar. Permainan maju mundur dinding, turun naik ceiling,

profi l garis, tekstur, warna dan pembayangannya semakin khas ditangkap mata

bila diramu dengan pencahayaan dan efek yang tepat. Satu lagi, pencahyaan pada

satu elemen besar pengaruhnya pada kesan ruang keseluruhan. Pada dinding

akan membuat ruang terasa luas, pada ceiling akan membuatnya terasa tinggi.

Perkembangan desain toko dengan permainan elemen (estetis) arsitektur,

memudahkan kreativitas tata letak merchandise. Rak atau showcase bisa

diintegrasikan dengan partisi/dinding. Di sela-sela ruang yang terbentuk

antarkeduanya, perangkat lampu dapat diletakkan, dengan armature yang tak

terekspos. Karena di luar yang tampak cuma berkas cahaya, maka bidang elemen

dan ruang keseluruhan terlihat bersih.

Untuk menciptakan ambience sekaligus tetap berpegang pada fungsi

penerangan umum dan merchandise, dibutuhkan aplikasi lebih dari satu spesifi kasi.

Tak hanya seperti konsep spotlight untuk aksen dan down light untuk umum,

melainkan sebuah sistem yang memuat berbagai fungsi.

Dinamisasi/fl eksibilitas sistem lighting yang mempertimbangkan perubahan

warna display dan warna barang seiring waktu dan tren, lebih utama menyediakan

alternatif konsep pencahayaan yang cukup banyak dengan dana maksimal.

Dinamis dan fl eksibel bisa dengan penggunaan multitrack (tidak dengan

sirkuit tunggal), dengan memilih spotlight pada sebuah track atau titik posisi yang

pasti yang arahnya dapat mudah diubah-ubah. Di samping dengan memilih fi tting

yang dapat dipakai oleh lampu-lampu yang berbeda agar tersedia kebutuhan

rendering warna yang berbeda-beda. Sebagai catatan, tingkat rendering warna

(color rendering) suatu lampu amat besar pengaruhnya terhadap kualitas visual

ambience suatu objek.

Sistem kontrol pencahyaan pada satu area perbelanjaan sebaiknya menyediakan

2 alternatif untuk siang dan malam dan mampu menciptakan ambience yang dapat

berubah-ubah dengan distribusi dan warna cahaya yang berbeda beda.

Ada empat model pencahayaan yang sepatutnya kita kenal, yaitu:

1. Ambient lighting, yaitu pencahayaan seluruh ruang technically, ambient lighting

artinya total sinar yang datang dari semua arah, untuk seluruh ruang. Sebuah

lampu yang diletakkan di tengah-tengah ruang hanya salah satu bagian dari

ambient lighting. Tetapi bila ada sinar yang datang dari semua tepi plafon,

misalnya, terciptalah ambient lighting. Dalam membuat ambient lighting, sinar

haruslah cukup fl eksible untuk berbagai situasi atau peristiwa yang mungkin

terjadi di ruangan.

2. Local lighting, atau pencahayaan lokal.pencahayaan jenis ini ditujukan untuk

aktivitas keseharian.

3. Accent lighting, atau pencahayaan yang berfungsi sebagai aksen. Selain contoh

di atas, pencahayaan jenis ini dapat dipakai untuk membuat sudut tertentu,

barang tertentu menjadi menonjol. Pencahayaan seperti ini dapat membimbing

pengunjung untuk melihat suatu barang, atau koleksi tertentu.

4. Natural lighting alias sinar matahari bahkan cahaya bulan. Bila didesain sejak

awal, pemanfaatan sinar matahari dapat membuat ruangan menjadi terang.

1 komentar:

Ini Ciprut mengatakan...

Keren Sob

www.kiostiket.com

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Top WordPress Themes